Minggu, 27 Mei 2012
Pemkab: Abu Vulkanik Bromo Rusak 132 Hektare Lahan Pertanian
Jumat, 17 Desember 2010 06:24
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 17/12 (SIGAP) - Kepala Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Imam Suryadi, Jumat (17/12) mengatakan, abu vulkanik Bromo merusak lahan pertanian sebanyak 132 hektare, dengan rincian kentang sebanyak 43 hektare, lahan kubis sebanyak 50 hektare dan lahan sayuran sawi sebanyak 39 hektare di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Imam saat dihubungi ANTARA mengatakan, abu vulkanik menyebabkan daun tanaman kentang kering dan pertumbuhan tanaman sayuran lainnya tidak bisa maksimal. Bahkan menurutnya, sebagian besar lahan pertanian itu tidak bisa dipanen.

Dijelaskan Imam, rata-rata usia kentang di lahan pertanian warga Tengger di Desa Argosari berkisar 50-70 hari, sehingga pertumbuhan kentang terhambat oleh guyuran hujan abu vulkanik yang turun terus menerus.

"Kalau tanaman kentang itu berusia lebih dari 70 hari masih bisa diselamatkan dengan dipanen lebih dini, sedangkan kalau usianya di bawah 70 hari dipastikan gagal panen," paparnya.

Dirinya menjelaskan, lahan pertanian sawi dan kubis dipastikan gagal panen karena abu vulkanik membuat daun sawi dan kubis membusuk, sehingga petani sayur di Desa Argosari merugi.

"Angin yang berhembus disertai abu vulkanik Bromo juga menyebabkan sebagian tanaman daun bawang patah, namun jumlahnya tidak terlalu banyak," katanya menambahkan.

Petugas penyuluh lapangan Dinas Pertanian Lumajang, lanjutnya, masih melakukan pendataan secara berkesinambungan terkait dengan lahan pertanian yang terkena dampak abu vulkanik.

"Sejauh ini hanya lahan pertanian sayur di Desa Argosari yang rusak akibat abu Bromo, hingga menyebabkan gagal panen," ucapnya.

Secara terpisah, Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Argosari, Martiam, membenarkan banyaknya lahan pertanian di desa setempat rusak akibat abu vulkanik Bromo yang mengandung belerang.

"Abu vulkanik itu, juga memengaruhi aktivitas warga Tengger yang sebagian besar adalah petani sayur di lereng Gunung Semeru dan Bromo. Warga memilih diam di rumah," tuturnya, menjelaskan.

Sebelumnya berdasarkan pantauan SIGAP, hujan deras yang mengguyur wilayah Tosari sejak Rabu (15/12) siang menimbulkan tanah longsor di sejumlah titik jalan antara Tosari - Wonokitri, dan Tosari - Podokoyo.  Kejadian itu sempat melumpuhkan jalan utama menuju Gunung Bromo.

Namun tanah longsor yang disebabkan oleh hujuan deras yang mengguyur wilayah Tosari itu bisa segera diatasi dengan kerja bakti masyarakat setempat.

Usai hujan reda pada Rabu (15/12) malam itu sejumlah warga langsung melakukan kerja bakti menyingkirkan tanah longsor di sejumlah titik. 

Sementara sisa tanah longsor yang volumenya lebih besar baru dapat disingkirkan Kamis (16/12) pagi hingga siang hari dengan menggunakan alat berat, buldozer yang didatangkan dari Pasuruan. (laporan rusman/ant)


 

Arsip Berita