Minggu, 27 Mei 2012
Lebak: Pemkab Targetkan Swasembada Daging Sapi 2014
Kamis, 16 Desember 2010 23:18
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 17/12 (SIGAP) - Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, menargetkan swasembada daging sapi lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Provinsi Banten pada 2014.

"Selama ini sebagian besar pasokan daging sapi berasal dari luar daerah," kata Kepala Bidang Produksi Dinas Peternakan Kabupaten Lebak Supadma, Kamis (16/12).

Supadma mengatakan, pihaknya optimistis target swasembada daging sapi akan tercapai 2014 jika melihat jumlah populasi sapi yang terus bertambah.

Jumlah populasi sapi diperkirakan bertambah antara 500 sampai 700 ekor per tahun.

Menurutnya, saat ini usaha ternak sapi di Kabupaten Lebak dimiliki para peternak rakyat, pengusaha swasta dan perusahaan daerah.

Populasi sapi di Lebak antara 4.000 sampai 7.000 ekor. "Saya kira pengembangan usaha sapi dipastikan berkembang pesat karena banyak petani memiliki ternak sapi sebab nilai jualnya cukup tinggi," katanya.

Supadma menambahkan, pengembangan sapi di Kabupaten Lebak dimulai 2004 yang digulirkan Bupati Mulyadi Jayabaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Program tersebut dilakukan dengan cara bagi hasil antara pemerintah daerah dan pemilik sapi setelah sapi beranak.

Pembagian keturunan itu dengan sistem 40% untuk pemerintah daerah dan 40% peternak serta 20% pakan.

"Dari pembagian itu sebesar 40 persen dijadikan pendapatan asli daerah (PAD)," katanya.

Sejauh ini, pengembangan ternak sapi di Kabupaten Lebak tersebar di Kecamatan Cikulur, Cileles, Cipanas, Wanasalam dan Bayah.

Kelima kecamatan tersebut cocok karena didukung ketersedian pakan melimpah.

Para peternak mengembangkan sapi jenis peranakan Ongole dan Brahman Cross sebab jenis itu cocok dikembangkan di Kabupaten Lebak.

Selain itu Dinas Peternakan melaksanakan program pelayanan inseminasi buatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan vaksinasi terhadap sapi.

"Kami yakin usaha pengembangan sapi bisa menjadi andalan ekonomi warga," katanya.

Sementara itu, Rahman (60) peternak sapi di Kecamatan Cileles Kabupaten Lebak mengakui mampu memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi dari hasil beternak sapi.

Rahman menambahkan, mengembangkan sapi sejak 1980-an melalui bantuan presiden. Pada 2004 dirinya juga mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Lebak.

"Saat ini jumlah sapi saya mencapai puluhan ekor," katanya.

Sementara itu, Departemen Pertanian telah menargetkan swasembada daging sapi secara bertahap pada tahun 2014. Melalui sejumlah program, penyediaan daging sapi dari dalam negeri diproyeksikan meningkat dari 67 persen pada tahun 2010 menjadi 90 persen pada 2014.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan, upaya swasembada daging sapi akan ditempuh melalui sejumlah program, di antaranya memperbanyak jumlah populasi sapi induk melalui program kredit usaha pembibitan sapi.

Selain itu juga memanfaatkan lahan-lahan yang masih potensial digunakan untuk peternakan dan meningkatkan jumlah kelahiran anak sapi menjadi 100.000 ekor dalam lima tahun.

”Dengan berbagai upaya ini, populasi sapi potong ditargetkan meningkat dari 12 juta ekor pada tahun 2009 menjadi 14,6 juta ekor pada tahun 2014,” kata Suswono seperti dilansir kompas, minggu lalu.

Selama periode 2005-2009, Indonesia masih mengimpor 40% total kebutuhan daging sapi yang pada tahun 2009 mencapai 322,1 ribu ton.

Meskipun populasi sapi potong dari tahun 2005 hingga tahun 2009 meningkat sebanyak 4,4% per tahun, populasi sapi potong dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan daging sapi.

Dari berbagai kerja sama, baik dalam maupun luar negeri, Departemen Pertanian menargetkan hasil sebanyak 50.000 sapi dalam lima tahun.

Di bidang pemanfaatan lahan potensial, integrasi perkebunan sawit dengan peternakan sapi diproyeksikan dapat menghasilkan 50.000 sapi dalam lima tahun. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita