Minggu, 27 Mei 2012
Denpasar: Gapoktan Manfaatkan Biogas
Rabu, 15 Desember 2010 10:15
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/12 (SIGAP) - Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Bali sudah memanfaatkan biogas untuk kebutuhan rumah tangganya di daerah tersebut.

"Sejak memanfaatkan biogas anggotanya kini mulai mengurangi penggunaan elpiji," kata Ketua Gapoktan Catur Satya Bina Lestari Wayan Sudiarsa di Desa Yang Api, Kabupaten Bangli, Bali, Rabu (15/12).

Dirinya mengatakan, mereka mulai memanfaatkan biogas setelah mengikuti program sistem pertanian terinegrasi (Simantri). Lebih dari delapan kepala keluarga (KK) sudah memanfaatkan biogas secara efektif.

"Kami sudah memanfaatkan biogas untuk mengganti penggunaan elpiji. Lebih dari delapan KK dikelompok kami menggunakan biogas untuk memasak," ujarnya.

Sudiarsa mengatakan, pihaknya berupaya memanfaatkan program Simantri dengan sebaik-baiknya. Ketergantungan akan elpiji selama ini secara bertahap dikurangi.

Dikatakan, untuk mendapatkan energi tersebut anggota Gapoktan membuat instalasi biogas ke rumah-rumah atau dengan cara membawa tabung ke lokasi penampungan biogas.

"Kemampuan distribusi biogas kami saat ini masih terbatas, namun kami akan terus mengembangkannya. Sementara bagi yang belum terjangkau instalasi dilakukan dengan transfer pengisian biogas," katanya.

Selain memanfaatkan biogas, pihaknya juga melakukan pengolahan urine sapi menjadi bio urine yang digunakan sebagai nutrisi tumbuhan.

Sedangkan, kompos yang dihasilkan dari kotoran sapi melalui proses fermentasi digunakan sebagai pupuk organik.

"Saat ini kelompok kami yang berjumlah 80 orang sudah menggunakan pupuk organik 100 persen. Kami pun sudah meninggalkan pupuk unorganik," katanya.

Kepala Bagian Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali, Ketut Teneng mengatakan, program Simantri yang dilaksanakan oleh Pemprov sudah menampakan hasil.

Dikatakan, program Simantri tahun ini dianggarkan Rp8 miliar untuk 40 Gapoktan. Sementara tahun 2009 dianggarkan senilai Rp2 miliar dengan jumlah Gapoktan sebanyak 10 unit.

Menurut Teneng, Simantri saat ini konsen pada program pembibitan sapi bali. Program ini diharapkan bisa menjadi pengembangan sapi bali. Dari program Simantri selama dua tahun, jumlah sapi dalam program tersebut sudah lebih dari 1.000 ekor sapi.

"Kami berharap Bali akan menjadi penghasil sapi terbesar dan menjadi tuan rumah bagi sapi bali," katanya.

Untuk diketahui, teknologi biogas sebenarnya bukan sesuatu hal yang baru. Berbagai negara telah mengaplikasikan teknologi ini sejak puluhan tahun yang lalu seperti petani di Inggris, Rusia dan Amerika serikat.

Sementara itu di Benua Asia, India merupakan negara pelopor dan pengguna biogas sejak tahun 1900 negara tersebut mempunyai lembaga khusus yang meneliti pemanfaatan limbah kotoran ternak yang disebut Agricultural Research instututeÿ dan Gobar Gas Research Station.

Lembaga tersebut pada tahun 1980 sudah mampu membangun instalasi biogas sebanyak 36.000 unit. Selain negara negara tersebut diatas, Taiwan, Cina, Korea juga telah memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan baku pembuatan biogas. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita