Minggu, 27 Mei 2012
Semarang: Dinkes Imbau Masyarakat Waspadai Diare
Minggu, 12 Desember 2010 13:07
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/12 (SIGAP) - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Niken Widyah Hastuti di Semarang, Minggu (12/12) mengatakan, Dinkes Kota Semarang mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyebaran penyakit diare, mengingat penyakit tersebut mudah menular dengan tidak memandang usia.

Niken menjelaskan, diare bisa menyerang siapa saja dari segala umur, karena itu harus diwaspadai dan diantisipasi.

Menurutnya, penyakit diare mudah menular saat kondisi atau daya tahan tubuh menurun, dan tidak menerapkan pola perilaku hidup bersih, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan tempat tinggalnya.

Dirinya menyebutkan jumlah penderita diare tahun ini cukup banyak, tercatat per Oktober 2010 sudah mencapai 28.625 orang, dan sebagian di antaranya harus dirawat di rumah sakit karena kondisinya cukup parah.

"Kalau memang belum terlalu parah bisa diatasi dengan memberikan cairan oralit, namun kalau tingkat dehidrasinya sudah cukup tinggi harus dirawat di RS dan diinfus untuk mengembalikan cairan tubuh," katanya.

Untuk jumlah penderita diare selama 2009, kata Niken, pihaknya mencatat mencapai 30.433 orang, karena itu masyarakat terus diimbau untuk membiasakan pola hidup bersih agar penyebaran diare bisa diantisipasi.

"Kalau untuk kasus tertinggi penderita diare di Kota Semarang, sampai saat ini ditemukan di Kecamatan Genuk dan Mangkang dengan penderita dewas dan anak-anak hampir sama," katanya tanpa menyebut angka.

Meski diare merupakan penyakit yang sudah "akrab" di kalangan masyarakat, Niken mengimbau masyarakat tidak menyepelekan penyakit itu, sebab penanganan yang terlambat bisa juga menyebabkan kematian.

"Diare termasuk penyakit yang selalu ditemukan sepanjang tahun, karena itu harus diwaspadai. Kalau menemukan anggota keluarga yang menderita diare segera bawa ke pusat kesehatan masyarakat atau RS," katanya.

Selain itu, kata dia, masyarakat diimbau untuk membiasakan pola hidup bersih, seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, membuang sampah pada tempatnya, dan aktif membersihkan sanitasi.

"Diare bisa diantisipasi dengan pelaksanaan `Samijaga`, yakni membersihkan saluran air minum dan jamban keluarga, kemudian yang tak kalah penting adalah saluran pembuangan air limbah (SPAL)," demikian Niken Widyah Hastuti.

Berdasarkan catatan SIGAP, diare adalah buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih.

Orang yang mengalami diare akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi tubuh. Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Sementara UNICEF (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan anak) memperkirakan bahwa, setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena Diare.

Di Indonesia, setiap tahun 100.000 balita meninggal karena Diare. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita