Minggu, 27 Mei 2012
Magelang: Potensi Banjir Lahar Dingin Merapi Masih Tinggi
Minggu, 12 Desember 2010 11:42
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/12 (SIGAP) - Potensi banjir lahar dingin di sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Merapi diperkirakan masih tinggi seiring dengan curah hujan di puncak gunung tersebut.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Yulianto di Magelang, Minggu (12/12) mengatakan, curah hujan di puncak Merapi mencapai 50 mililiter perjam dengan durasi 120 menit secara terus-menerus.

"Curah hujan tersebut berpotensi menimbulkan banjir lahar dingin. Curah hujan kurang dari 50 mililiter perjam saja sudah menimbulkan banjir lahar, apalagi menjapai 50 mililiter perjam," katanya.

Di wilayah Kabupaten Magelang terdapat lima sungai yang berhulu di Gunung Merapi, yakni Sungai Krasak, Putih, Blongkeng, Lamat dan Pabelan. Sejauh ini banjir lahar cenderung melewati alur Sungai Pabelan dan Putih.

Yulianto mengatakan, material vulkanik yang dikeluarkan Gunung Merapi seperti batu dan pasir masih labil,maka saat ada hujan deras material tersebut rawan terbawa air dan kemudian menimbulkan banjir lahar.

Jumlah material vulkanik Merapi yang dikeluarkan selama erupsi 2010 diperkirakan mencapai sekitar 150 juta meter kubik maka ancaman banjir lahar dingin sangat besar.

Dirinya mengimbau warga yang rumahnya berjarak kurang dari 300 meter dari 5 sungai berhulu di Merapi tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan.

Yulianto mengatakan, sebenarnya terdapat sembilan sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Namun, sejumlah sungai seperti Senowo, Pabelan, Trising, dan Apu bergabung menjadi Sungai Pabelan. Sedangkan Sungai Krasak dan Bebeng bergabung menjadi Sungai Krasak. Sedangkan Sungai Sat berganti menjadi Sungai Putih.

Berdasarkan pantauan Antara, masyarakat di lereng Gunung Merapi Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman mulai melakukan kegiatan ekonomi untuk menyambung hidup mereka setelah lebih dari satu bulan berada di pengungsian.

Di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Minggu (12/12) mengatakan, warga yang rumahnya tidak terlalu rusak parah mulai berjualan berbagai makanan dan minuman ringan serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Sedangkan warga yang rumahnya rusak parah atau bahkan hancur tidak sedikit pula yang berjualan dengan cara asongan karena saat ini kawasan tersebut setiap hari dikunjungi masyarakat yang ingin melihat kondisi wilayah yang terkena awan panas maupun lahar Gunung Merapi. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita