Minggu, 27 Mei 2012
Ahli: Gempa Skala Kecil pun Bisa Berpotensi Tsunami
Sabtu, 11 Desember 2010 17:29
AddThis Social Bookmark Button

Ahli paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Danny Hilman Natawidjaya mengatakan, besar kecilnya tsunami yang menyertai gempa ternyata tidak ditentukan oleh skala gempa yang terjadi. Menurutnya, titik pusat gempa turut menentukan.

“Jadi, tidak mesti getaran besar. Tapi, gempa dengan getaran kecil pun bisa berpotensi tsunami. Jangan berpatokan hanya skala richter-nya," ujar Hilman dalam diskusi pakar gempa, tsunami, gunungapi dan banjir bandang yang diselenggarakan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana di Bina Graha, Jakarta, Jumat (10/12).

Apa yang dikatakan Danny ini adalah hasil dari penelitian tentang gempa yang disertai tsunami  yang terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, 25 Oktober 2010 lalu.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, tsunami di Mentawai itu, ternyata jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Banyaknya korban jiwa dan kerusakan di Pulau Pagai dan Sipora akibat tsunami itu memperlihatkan betapa seriusnya bencana yang terjadi.

Danny menjelaskan, pada tsunami Mentawai, titik pusat gempa berada di bawah air, sehingga mengangkat volume air lebih banyak. Danny membandingkan gempa dengan skala lebih besar, tetapi tidak disertai tsunami. Hal itu disebabkan titik gempa di bawah lempengan, sehingga yang terangkat hanya tanahnya.

Mentawai Masih Berpotensi Terjadi Gempa

Terkait dengan hasil penelitian yang dilakukannya, Danny mengingatkan, kawasan Mentawai memang sangat berpotensi gempa. "Tahun ini, ada yang masih perlu diwaspadai. Kami bisa prediksi besarnya, tapi tidak bisa prediksi kapan waktunya. Kapan gempa itu akan muncul, itu pertanyaan susah," katanya.

Lebih lanjut Danny menegaskan, gempa dan tsunami yang terjadi Oktober lalu justru menjadi semacam isyarat adanya gempa besar selama periode mendatang.

Danny menyampaikan prediksi itu berdasarkan pola gempa-gempa besar di wilayah itu yang cenderung berulang. Dikatakannya, siklus gempa besar di zona subduksi Mentawai selalu berulang mengikuti siklus 200 tahunan.

Danny menjelaskan, sebelumnya pernah terjadi gempa dan tsunami yang lebih besar pada 1300-an dan 1685 di wilayah itu. Gempa terakhir terjadi pada tahun 1797 dan 1833. Karena itulah Danny memperkirakan tak lama lagi bakal ada gempa besar di segmen Mentawai yang meliputi wilayah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, hingga pertengahan Pulau Pagai Selatan.

Gempa dan tsunami Mentawai 25 Oktober lalu setidaknya mengakibatkan 427 orang meninggal, 75 hilang, 170 luka berat, 324 luka ringan, dan 15.097 warga di empat kecamatan mengungsi.  (laporan rusman/pi)

 

Arsip Berita