Minggu, 27 Mei 2012
BPS: Luas Panen Jagung Di Sultra 28.725 Hektare
Jumat, 10 Desember 2010 03:19
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 10/12 (SIGAP) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara (Sultra), Mawardi Arsyad, mengatakan, luas panen tanaman jagung di Sultra tahun ini seluas 28.725 hektare.

"Luas panen tersebut berdasarkan angka ramalan (ARAM) III, dengan melihat berdasarkan luas panen yang terjadi dari Januari hingga September 2010," kata Mawardi Arsyad, di Kendari, Jumat (9/12).

Menurut Mawardi, luas areal panen tanaman jagung tersebut meningkat dari luas panen 2009 yang tercatat hanya seluas 27.214 hektare.

Dirinya mengatakan dengan bertambahnya luas panen tersebut, produksi jagung Sultra juga akan meningkat, diperkirakan hingga akhir tahun 2010 ini produksi jagung di Sultra sebesar 72.460 ton, sedangkan pada 2009 produksi jagung Sultra hanya 71.655 ton.

"Peningkatan luas areal panen jagung tahun ini, akan meningkat pula hasil produksi sebesar 72.460 ton jagung pipilan kering," kata Mawardi.

Lebih lanjut Mawardi mengatakan, penambahan luas panen jagung terjadi di Kabupaten Muna sebagai sentra produksi jagung terbesar di Sultra, menyusul di Kabupaten Buton.

"Luas panen jagung di daerah itu diperkirakan karena para petani yang pernah beralih sebagai pendulang emas pada tahun lalu di Kabupaten Bombana, kini sudah kembali ke kampung halamannya untuk menanam jagung," katanya.

Menurutnya, peningkatan luas panen dan produksi jagung tahun ini, tidak diikuti oleh produktivitas jagung yang mengalami penurunan yakni hanya 25,23 kuintal per hektare, sedangkan produktivitas tahun lalu sebesar 26,33 kuintal per hektare.

"Menurunnya produktivitas jagung tahun ini, bisa disebabkan karena petani menguranggi penggunaan pupuk untuk tanamannya," pungkasnya.

Sementara itu menurut Susilo Astuti Handayani, Penyuluh Pertanian Pusbangluhtan, Indonesia telah mampu berswasembada jagung, namun sampai saat ini kebutuhan jagung masih terus meningkat baik untuk pangan maupun pakan. Kebutuhan jagung untuk pakan sudah lebih dari 50% kebutuhan nasional.


Menurutnya, peningkatan kebutuhan jagung terkait dengan makin berkembangnya usaha peternakan, terutama unggas. Hal ini menuntut perlunya upaya swasembada jagung secara berkelanjutan.

Susilo menambahkan, produksi jagung dapat ditingkatkan melalui peningkatan produktivitas dan perluasan tanaman. Peningkatan produktivitas jagung dapat dicapai dengan menanam benih varietas unggul jagung hibrida. Jagung hibrida adalah benih jagung dari hasil menyilangan dua atau lebih tetua yang memiliki sifat unggul. Guna memperoleh produksi yang maksimal, tidak cukup hanya penggunaan benih varietas unggul jagung hibrida saja, melainkan perlu memperhatikan jarak tanam, pemupukan sesuai kebutuhan tanaman, dan pengelolaan irigasi yang baik. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita