Minggu, 27 Mei 2012
Peneliti: 60% Terumbu Karang Sulsel Rusak
Minggu, 05 Desember 2010 16:17
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/12 (SIGAP) - Pengurus Pusat Penelitian Terumbu Karang Universitas Hasanuddin, Neil Muhammad di Makassar, Minggu (5/12) mengatakan, Sekitar 60% dari total 5000 Kilometer persegi terumbu karang yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan mengalami kerusakan akibat penggunaan bom ikan yang mengandung bahan kimia.

"Selama ini penghancuran karang yang didominasi perilaku penangkapan ikan dengan cara pengeboman hanya dilihat sebatas luarannya saja. Padahal untuk menghasilkan bom menggunakan bahan kimia yang memiliki efek jangka panjang," ujarnya.

Menurutnya, sebagian karang yang tersisa juga sudah dalam kondisi yang memprihatinkan, banyak yang sudah mati dan patah.

Bahkan karena tingginya aktivitas dalam penggunaan bahan kimia itu, jenis ikan pemangsa seperti Hiu sulit lagi ditemukan di perairan Sulawesi Selatan.

Dirinya menjelaskan, satu bahan utama pembuatan bom ikan adalah pupuk.

Pupuk tersebut didatangkan dari Malaysia yang dikenal nelayan dengan merk Cap Matahari. Pupuk jenis itu memiliki kandungan kimia cukup besar dan mampu meledakkan puluhan meter persegi wilayah terumbu karang.

"Pupuk Indonesia tak dapat digunakan karena menurut nelayan terlalu banyak kandungan airnya," kata Neil.

Neil menambahkan, munculnya ide karang hias di Sulsel pada tahun 2005 membuat penambangan karang besar tak terkendali.

Menurutnya, banyak karang diekspor ke luar negeri sebagai bahan untuk makanan dan bahan untuk laboratorium dengan negara tujuan utama Hongkong.

Di Indonesia, ada 20 perusahaan penambangan ekspor karang hias dan hanya satu perusahaan yang dimiliki orang Indonesia, selebihnya asing.

Berdasarkan catatan SIGAP, terumbu karang di dunia diperkirakan mencapai 284,300 kilometer persegi. Terumbu karang dan ekosistem lain yang terkait, seperti padang lamun, rumput laut dan mangove adalah ekosistem laut terkaya di dunia.

Seperti yang dilansir laman goblue.or.id, wilayah Indonesia mempunyai sekitar 18% terumbu karang dunia, dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 2500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2500 jenis Moluska, dan 1500 jenis udang-udangan).

Terumbu karang di Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$1,6 milyar/tahun. Nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai setidaknya US$ 61,9 milyar/tahun.

Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang, terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Tergantung dari jenis, dan kondisi perairannya, terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita