Minggu, 27 Mei 2012
Yogyakarta: Lahar Dingin Masih Jadi Ancaman
Rabu, 01 Desember 2010 00:44
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 1/12 (SIGAP) - Potensi bahaya Merapi masih mengancam. Bahaya lahar dingin dari material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi akan berlangsung dalam waktu lama, mencapai lebih dari satu tahun.

Saat ini, volume material hasil erupsi Gunung Merapi yang terbawa sebagai lahar dingin masih sangat kecil. Karena itu, ancaman lahar dingin masih bisa terjadi dalam waktu lama, bahkan bisa lebih dari satu tahun

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo, mengungkapkan hal itu di Yogyakarta, Selasa (30/11).

Subandriyo mencontohkan, banjir lahar dingin di Sungai Code Senin malam (29/11) hanya membawa sedikit dari total volume material vulkanik Gunung Merapi yang telah dimuntahkan.

BPPTK mendata Lahar dingin yang membawa material hasil erupsi Gunung Merapi baru terjadi di sejumlah kali. Yaitu, Boyong, Putih dan di Kali Senowo. Diperkirakan baru 10 persen dari total 140 juta material vulkanik yang telah terbawa dalam lahar dingin tersebut.

Menurut Subandriyo, material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi tersebut tidak akan turun seketika menjadi lahar dingin. Tetapi, akan turun seperti dicicil dalam volume-volume kecil, dan waktunya cukup lama.

Meski begitu, Subandriyo mengatakan, ancaman bahaya lahar dingin tidak akan sebesar letusan Gunung Merapi yang berupa awan panas. Namun, lahar dingin kemungkinan akan lebih sering terjadi dibanding awan panas, terlebih pada musim hujan.

Hujan dengan intensitas tinggi, minimal 40 milimeter (mm) per jam di Gunung Merapi dan terjadi selama dua jam berturut-turut, bisa menyebabkan terjadinya lahar dingin. Subandriyo juga mengatakan, kemungkinan terjadinya "secondary explosion" di endapan lahar Merapi.

"Endapan lahar tersebut memiliki suhu cukup tinggi, sekitar 300 derajat celcius, sehingga saat ada hujan kemungkinan akan menyebabkan adanya letusan sekunder tersebut," katanya.

Namun demikian, letusan sekunder tersebut tidak membawa ancaman signifikan kepada masyarakat. Karena merupakan fenomena alam biasa sehingga BPPTK tidak melakukan pemantauan khusus terhadap terjadinya letusan-letusan sekunder tersebut.

Selasa, terjadi letusan sekunder di Kali Gendol yang menyebabkan munculnya asap setinggi sekitar 300 meter. Berdasarkan hasil pemantauan BPPTK Yogyakarta, aktivitas kegempaan Gunung Merapi hingga pukul 18.00 WIB, terjadi 14 kali gempa multiphase, 21 kali guguran dan dua kali gempa tektonik. Sedangkan gempa "low frequensi", "tremor" dan awan panas tidak tercatat. (laporan wa prasetya/polindo)

 

Arsip Berita