Minggu, 27 Mei 2012
Sepanjang 2010, 233.464 Ha Sawah Tergenangi
Rabu, 24 November 2010 08:53
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/11 (SIGAP)-Kementerian Pertanian mengungkapkan selama Januari-Oktober 2010 luas areal persawahan padi yang terkena banjir mencapai 233.464 hektare (ha).

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sarsito Wahono Gaib Subroto di Jakarta, Rabu, mengatakan, dari luasan sawah yang terendam banjir tersebut sekitar 81.269 ha diantaranya mengalami gagal panen atau puso.

"Banjir terluas terjadi di provinsi Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Lampung," katanya dalam laporan Perkembangan Kegiatan Perlindungan Tanaman Pangan pekan ketiga November 2010.

Ia menjelaskan, luas pertanaman padi yang terkena banjir di Sulawesi Selatan selama Januari-Oktober 2010, mencapai 46.280 ha dengan puso 18.616 ha.

Sedangkan di Jawa Timur mencapai 35.157 ha dengan puso 7.671 ha dan Provinsi Lampung seluas 27.777 ha sawah yang terendam banjir serta puso 12.985 ha.

Menutut Gaib, luas areal persawahan yang terendam banjir pada tahun ini lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2009.

Pada Januari-Oktober 2009, menurut dia, luas pertanaman padi yang terendam banjir mencapai 179.944 ha dengan gagal panen seluas 57.376 ha.

Sementara itu luas areal persawahan padi yang mengalami kekeringan selama 2010 juga menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan Januari- Oktober 2009.

Selama Januari-Oktober 2009 areal persawahan yang terkena kekeringan mencapai 94.333 ha dengan tingkat kegagalan panen sekitar 20.412 ha.

Banjir yang terjadi karena ketidakmampuan tanah untuk menyerap air hujan yang jatuh ke tanah yang pada akhirnya menimbulkan erosi karena adanya aliran permukaan.

Pendangkalan berbagai penampung air seperti sungai, waduk, danau dan aliran air lain terus menerus terjadi sehingga penampung air tersebut sudah tidak mampu lagi menampung air hujan.

Hampir semua kejadian banjir yang terjadi di Indonesia terjadi akibat meluapnya sungai. Seperti banjir di DKI Jakarta yang disebabkan oleh melupanya Sungai Ciliwung yang sudah tidak mampu lagi menampung air dari sepanjang alirannya.(Laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita