Minggu, 27 Mei 2012
Status Awas Abu Bromo 12 KM Dari Malang
Rabu, 24 November 2010 06:08
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/11 (SIGAP) - Radius abu vulkanik Gunung Bromo (2.329 mdpl) yang statusnya meningkat menjadi "Awas" atau level IV masih berjarak 12 kilometer dari Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Camat Poncokusumo Dwi Ilham, Rabu (24/11) mengatakan, jarak radius abu vulkanik tersebut tidak mengganggu aktivitas warga desa, dan masyarakat masih tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Ilham menjelaskan, peningkatan status Gunung Bromo sudah diketahui warga melalui sejumlah pesan singkat, namun peningkatan tersebut tidak menganggu aktivitas, karena lokasi Desa Ngadas dengan pusat Gunung Bromo berjarak 15 kilometer.

"Saya diberi tahu melalui `SMS` dari salah satu anggota tim vulkanologi bahwa abu vulkanik Gunung Bromo terkait meningkatnya status masih berjarak 3 kilometer dari pusat kawah, sedangkan dari lokasi Desa Ngadas masih berjarak 12 kilometer," paparnya.

Dirinya mengatakan, Desa Ngadas merupakan kawasan Kabupaten Malang yang terdekat dengan lokasi Gunung Bromo, meski demikian masih ada sejumlah desa lainnya, namun masuk di wilayah Probolinggo, seperti Desa Ngadisari dan Cemorolawang.

Dengan jauhnya jarak tersebut, membuat pendudukan Desa Ngadas yang berjumlah 1.200 kepala keluarga tidak terlalu mengkhawatirkan adanya peningkatan status tersebut.

"Lokasi desa kami masih berjarak 15 kilometer dengan pusat Gunung Bromo, dan ada sejumlah desa lainnya yang lebih dekat," ucapnya.

Meski demikian, Dwi mengimbau apabila ada warga yang keluar rumah tetap menggunakan masker, guna melindungi adanya abu yang berembus mengarah ke Desa Ngadas.

Dwi menjelaskan, lokasi Desa Ngadas masih cukup terlindung sebab berada di dataran tinggi, sementara lokasi Gunung Bromo berada jauh di bawahnya.

"Selama ada bencana Gunung Bromo, Desa Ngadas merupakan lokasi yang paling aman, sehingga warga tidak terlalu mengkhawatirkan adanya peningkatan status, sebab embusan abu vulkanik selalu mengarah ke samping kiri atau kanan, dan jarang sekali terus keatas ke wilayah kami, karena lokasi kami berada jauh di dataran tinggi Gunung Bromo," katanya.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono mengatakan, kenaikan level Gunung Bromo menjadi "Awas" (level IV, tertinggi) pada Selasa (23/11/2010) tidak sebahaya ancaman erupsi Merapi. Pasalnya, karakter letusan Bromo adalah freatik (semburan uap air dan gas bercampur abu halus), bukan eksplosif (letusan) seperti letusan Merapi, seperti kepada kompas.

Bromo, dikatakan Surono, juga tidak mengeluarkan bahaya primer awan panas yang suhunya bisa mencapai 600 derajat celsius seperti Merapi. "Biasanya, erupsi Bromo berlangsung cepat. Mudah-mudahan (aktivitas) kali ini tidak tinggi," katanya.

Meski begitu, dirinya mengatakan, pihaknya tetap mengeluarkan larangan aktivitas manusia, khususnya wisatawan, pada radius 3 kilometer dari kaldera Bromo. Hal ini untuk menjaga segala kemungkinan terburuk, termasuk terulangnya korban tewas saat Bromo meletus terakhir kali pada 2004 lalu. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita