Minggu, 27 Mei 2012
Wagub Jatim Imbau Masyarakat Bromo Mengungsi
Rabu, 24 November 2010 02:16
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/11 (SIGAP) - Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur H Saifullah Yusuf mengimbau masyarakat di sekitar kawasan Gunung Bromo untuk turun dan mengungsi sehubungan dengan perubahan status dari "Siaga" menjadi “Awas”.

Lebih lanjut Saifullah mengatakan,  meminta masyarakat Bromo untuk belajar dari Merapi dan jangan menyepelekan prosedur.

Hingga kini, Pemprov Jatim sudah mewaspadai tiga gunung yakni Semeru, Bromo, dan Kelud, namun antisipasi teknis sudah dilakukan di kawasan Semeru. Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim sudah menyiapkan dana "on call" untuk ketiga gunung itu sebesar Rp2,5 miliar dan dana cadangan Rp50 miliar.

Berdasarkan pantauan SIGAP, aktivitas Gunung Bromo di Jawa Timur mengalami peningkatan, sehingga statusnya ditingkatkan dari “Siaga” pada Selasa (23/11) pukul 08.00 WIB menjadi “Awas” pada pukul 16.30 WIB.

Peningkatan aktivitas Gunung Bromo yang dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Pos Pengamatan Gunung Bromo di Ngadisari, Cemorolawang, Probolinggo itu telah disebarkan ke pemerintah daerah di sekitar Gunung Bromo.

Kepala Kesbang Linmas Kabuaten Pasuruan, M. Yahya, mengatakan telah mendapat pemberitahuan peningkatan status Gunung Bromo tersebut lewat Kementerian ESDM Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan data dari Pos Pengamatan Gunung Bromo di Ngadisari, Cemorolawang, Probolinggo, aktivitas gempa vulkanik meningkat sejak 8 November 2010.

Kegiatan Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan Gempa Vulkanik Dangkal (VB) secara fluktuatif terus meningkat. Sejak tanggal 8 November 2010 mulai tercatat Tremor Vulkanik.

Berdasarkan pengamatan data kegempaan dan visual serta analisis data tersebut, status kegiatan Gunung Bromo dinaikkan menjadi Awas (Level IV) sejak 23 November 2010 pukul 16.30 WIB.

Sehubungan dengan status Bromo yang Awas itu, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar Bromo tenang dan tidak terpancing isu-isu tentang letusan Bromo.

Untuk mengurangi risiko bencana erupsi Bromo, masyarakat tidak diperbolehkan mendekati kawah aktif atau kawasan wisata Bromo harus ditutup dari segala aktivitas.

Gunung Bromo secara administratif terletak di Kabupaten Probolinggo, dan memiliki tinggi puncaknya 2.329 meter dari permukaan laut.

Kegiatan Bromo umumnya dicirikan oleh hembusan asap kawah berwarna putih tipis sampai putih tebal, tekanan lemah dengan ketinggian berkisar antara 75-150 meter dari puncak, bau belerang tercium tajam.

Pengamatan kegempaan Bromo dipantau dengan menggunakan seismograf PS-2 secara telemetri semakin aktif, dimana pada tanggal 1-7 November hanya terjadi 2 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 5 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 5 kali gempa Tektonik Jauh (TJ).

Namun pada 15-21 November 354 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 10 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 6 kali gempa Tektonik Jauh (TJ). Gempa Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1,5-3 mm.

Secara visual pada tanggal 1-7 November visual ke arah puncak Bromo tertutup kabut pada saat cuaca cerah teramati hembusan asap berwarna putih tipis-putih sedang, tekanan lemah, tinggi 75 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara.

Tapi, pada 22-23 November teramati hembusan asap berwarna putih sedang-putih tebal, tekanan kuat tinggi 250 meter di atas bibir kawah, condong ke arah utara.

Gunung Bromo selama abad 20 telah meletus sebanyak tiga kali per 30 tahunan. Letusan terbesar terjadi 1974 dan terakhir pada 8 Juni 2004 dimana terjadi letusan freatik dengan tinggi asap 3.000 meter dari bibir kawah. Akibat letusan itu menimbulkan korban jiwa yakni dua orang meninggal, dan lima orang luka-luka. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita