Minggu, 27 Mei 2012
Jayapura: Danau Sentani Berpotensi Budidaya Ikan Air Tawar
Selasa, 23 November 2010 03:05
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 23/11 (SIGAP) - Danau Sentani di bawah lereng Pegunungan Cycloops yang terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua, berpotensi air berskala besar yang cocok untuk pengembangan budidaya ikan air tawar.

Demikian dikatakan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) Jayapura, Yunus Paelo, Selasa (23/11).

Menurutnya, potensi air Danau Sentani yang merupakan salah satu danau terbesar dan terluas di Indonesia itu sangat cocok untuk pengembangan budidaya ikan air tawar bagi peningkatan gizi keluarga dan salah satu sumber pendapatan daerah.

"Sayangnya potensi itu sampai saat ini belum dikelola optimal oleh pemerintah dan masyarakat sekitar secara efektif," kata Yunus.

Yunus menambahkan, dengan potensi debit air yang berskala besar itu danau Sentani dapat dijadikan lahan budidaya berbagai jenis ikan air tawar, yang nantinya dapat memenuhi permintaan pasar di Papua bahkan sampai keluar Papua.

"Danau Sentani bisa untuk budidaya banyak jenis ikan air tawar seperti Mujair, Mas, Lele, Nila, dan berbagai jenis ikan berprotein tinggi lainnya," ujarnya.

Jika dibanding dengan budidaya ikan air tawar di daerah lain, hasilnya masih lebih banyak di danau Sentani, karena debit airnya tersedia cukup.

"Kita contohkan para petani di Samarinda, Kalimantan Timur yang begitu gigih mengembangkan berbagai jenis ikan air tawar di sejumlah sungai, padahal debit airnya kecil dibanding Danau Sentani yang menyimpan debit air paling besar dari Pegunungan Cycloops," terangnya.

Yunus mengemukakan, ada 3 faktor yang paling utama dalam pengembangan budidaya ikan air tawar, yaitu penyediaan bibit ikan, penyediaan pabrik pengolahan pakan dan penyediaan pasar.

"Saya pikir hal ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dan semua pihak terkait," paparnya.

Menurut sejarah, pertama sekali nama Sentani disebut oleh seorang Pendeta Kristen BL Bin ketika melaksanakan tugas pekabaran Injil di wilayah danau ini pada 1898. "Sentani berarti di sini kami tinggal dengan damai."

Danau sentani memiliki luas 9.360 hektare dan berada pada ketinggian 75 meter di atas permukaan laut (dpl) merupakan salah satu danau terbesar di Papua dengan 21 buah pulau kecil menghiasi danau yang indah ini.

Danau ini merupakan bagian dari Cagar Alam Cycloops yang memiliki luas sekitar 245.000 hektare. Terdapat 29 species ikan air tawar dan tiga di antaranya merupakan species asli Danau Sentani.

Salah satunya adalah ikan Gabus, species asli danau Sentani yang tidak terdapat di daerah atau negara lain di dunia.

Secara administratif danau Sentani masuk ke dalam Kabupaten Jayapura, kemudian terjadi pemekaran kabupaten baru, yaitu Keerom dan Sarmi. Sepertiga atau sebagian kecil danau Sentani masuk ke dalam Kabupaten Keerom.

Danau ini terletak di Kecamatan Sentani, 20 Km di sebelah barat kota Jayapura, dapat dijangkau dengan berbagai macam sarana transportasi dalam waktu 20 menit. Angkutan umum yang dapat digunakan yaitu jalur Abepura-Sentani.

Berdasarkan catatan SIGAP, tahun 2010 adalah momentum untuk meningkatkan produk kelautan dan perikanan, untuk itu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merumuskan Visi dan Misi serta membuat grand strategy. Visi Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah menjadikan Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar di dunia pada tahun 2015. 
Misi yang diemban adalah Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan. Untuk mewujutkan Visi tersebut, maka Kementerian Kelautan dan Perikanan mempercepat peningkatan produksi perikanan budidaya hingga 353 % yaitu dari 4,7 juta ton pada tahun 2009 menjadi 16,8 juta ton pada tahun 2014.

Dalam rangka mempercepat peningkatan dimaksud,  maka pengembangan perikanan budidaya perlu terus diupayakan guna memenuhi ketersediaan bahan pangan hewani, penyediaan bahan baku industri, peningkatan pendapatan pembudidaya ikan, penyediaan lapangan kerja dan berusaha, meningkatkan devisa, serta mendukung pengembangan wilayah dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian dan lingkungan hidup.

Namun dalam upaya peningkatan tersebut, ternyata berbagai kendala masih menjadi hambatan pada pengembangan perikanan budidaya diantaranya tingkat produktivitas yang masih rendah, beberapa teknologi pembenihan belum sepenuhnya dikuasai, mutu dan jumlah benih yang terbatas, adanya serangan hama dan penyakit, serta proses alih teknologi aplikatif adaptif yang dirasa lambat. (laporan rusman/ant) 


 

Arsip Berita