Minggu, 27 Mei 2012
Megelang: Petani Sebulan Lagi Mulai Tanam Sayuran
Senin, 22 November 2010 05:28
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 22/11 (SIGAP) – Sekitar sebulan mendatang sejumlah petani di kawasan barat kaki Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengatakan mulai menggarap lahan pertaniannya terutama untuk ditanami sayuran sekitar sebulan mendatang.

Demikian dikatakan Susanto (35), warga Dusun Grogol, Desa Mangunsoko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jateng, di Magelang, Senin (22/11).

Menurutnya sebelum Merapi meletus pertama pada 26 Oktober 2010, dirinya menanami lahannya seluas 3 ribu meter persegi dengan lombok, buncis, dan kacang panjang.

Lomboknya, katanya, ketika itu siap panen dengan harga di tingkat petani Rp9.000 per kilogram, sedangkan buncis dan kacang panjang dua bulan lagi panen dengan harga masing-masing Rp2.500 dan Rp3.000 per kilogram.

"Harga sekarang kami tidak tahu lagi, karena selama ini berada di pengungsian dan tidak bisa mengurus pertanian, termasuk tidak tahu perkembangan harga," katanya.

Dikatakan Susanto, modal menanam sayuran itu ketika itu berasal dari kredit salah satu bank dan koperasi setempat dengan jumlah total sebesar Rp7,5 juta.

Setelah rumah dan perabotnya bersih dari abu dan tertata, sedangkan pekarangan bersih dari pasir dan pohon-pohon yang tumbang, katanya, akan memulai mengolah pertaniannya.

"Untuk jangka pendek akan menanam mentimun, cesin, bayam, kangkung, yang kira-kira 1,5 bulan panen, jangka menengah lombok, terong, dan tomat antara dua hingga empat bulan panen," katanya.

Tetapi, katanya, dirinya kesulitan untuk mendapatkan bantuan modal mengolah lahan pertanian pascabencana Merapi.

"Belum tahu modalnya dicari dari mana, tetapi sejak sekarang saya sudah merencanakan penanaman untuk jangka pendek dan menengah," katanya.

Semenatara itu, Sutar, petani Dusun Kajangkoso, Desa Mangungsoko, mengaku, tanaman lombok seluas seribu meter persegi rusak diterjang hujan abu vulkanik Merapi secara bertubi-tubi beberapa waktu lalu.

"Tanaman yang seribu meter persegi hancur dan belum panen, yang seribu meter persegi lainnya sudah petik beberapa kali dengan harga terakhir Rp15 ribu per kilogram," katanya.

Tanaman lainnya sebelum Merapi meletus, katanya, bunga kol, tomat, dan sawi yang belum sempat dipanen.

Ketika itu, katanya, dirinya menanam beberapa jenis sayuran itu dengan modal sendiri sekitar empat juta rupiah.

"Rencananya sebulan lagi mulai tanam lombok, cesin, dan sawi. Tetapi belum tahu modalnya dari mana, kemungkinan harus mencari pinjaman ke bank," katanya.

Sutar yang selama ini mengungsi di Balai Kelurahan Sawitan sekitar 50 kilometer barat puncak Merapi dan sejak akhir pekan lalu pulang ke rumah bersama isteri dan dua anaknya.

Petani setempat lainnya, Eri Handoyo, sebelum Merapi meletus sudah dua kali memanen lombok di lahannya seluas dua ribu meter persegi, sedangkan kacang panjang belum bisa panen karena masih berumur dua minggu. Usia panen kacang panjang sekitar dua bulan.

"Ketika itu harga cabai hijau besar empat ribu rupiah per kilogram, sedangkan kacang panjang Rp2.500 per kilogram. Modal menanamnya ketika itu lima juta rupiah meminjam dari bank," katanya.

Dirinya mengaku, saat ini tidak bisa mengembalikan modal pinjaman dari bank itu karena letusan Merapi telah menghancurkan lahan pertaniannya tak jauh dari alur Kali Senowo.

"Kalau rumah sudah beres, saya rencana akan tanam lombok, terong, dan buncis, hanya saja belum tahu modalnya dari mana lagi mencarinya," katanya.

Seorang petani Dusun Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, di sekitar aliran Kali Lamat, Gimin, mengatakan, sebelum Merapi meletus sudah tiga kali panen cesin dan kacang panjang yang masing-masing seharga Rp3.000 per kilogram.

Selain itu, katanya, panen lombok rawit keriting di lahan seluas seribu meter persegi selama beberapa kali dengan harga Rp18 ribu per kilogram.

"Ketika itu saya dengan modal sendiri dua juta rupiah, untuk modal menanam pascabencana ini kami belum tahu dari mana, harapan kami ada bantuan dari manapun sebagai modal menanam sebulan lagi," katanya.

Sebelumnya, Jum’at (12/11), Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Magelang merilis data kerusakan lahan pertanian di wilayah sekitar Merapi mengakibatkan kerugian mencapai Rp 247 miliar.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Magelang, Wijayanti seperti yang dilasir laman jpnn.com mengatakan, kerusakan tersebut meliputi 12  kecamatan di wilayah Kabupaten Magelang. Kerusakan terparah terjadi di Kecamatan Srumbung, Dukun, Sawangan dan Muntilan.

Kerusakan, katanya, hampir terjadi pada semua pohon yang tertimpa abu vulkanik. Dirinya merinci ada 46 komoditas tanaman pertanian di wilayah ini yang rusak, tertinggi adalah tanaman salak yang menjadi komoditas utama pertanian wilayah Kecamatan Srumbung. Jumlahnya mencapai 5 juta pohon dengan total kerugian mencapai Rp 84 miliar.

Lahan padi yang rusak, lanjutnya, mencapai 10.164 hektare dengan total kerugian mencapai Rp43 miliar. Komoditas lain yakni jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, bawang daun, kentang, kobis, wortel, kacang panjang, semua jenis cabai, terong, buncis, labu siam, tomat dan pare dengan total kerugian mencapai Rp 83 miliar.  (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita