Minggu, 27 Mei 2012
Sidoarjo: BPLS Intensif Perkuat Tanggul Penahan Lumpur
Sabtu, 20 November 2010 10:46
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 20/11 (SIGAP) - Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) secara intensif memperkuat tanggul lumpur. Hal ini dilakukan supaya tanggul tidak jebol bila terjadi hempasan dari dalam kolam penampungan lumpur.

Wakil Kepala Humas BPLS Akhmad Kusairi, Sabtu (20/11) mengatakan, penguatan tanggul tersebut dilakukan supaya kalau terjadi hempasan dari dalam kolam penampungan lumpur, maka tanggul masih kuat.

"Penguatan tanggul memang perlu dilakukan dan selalu diperhatikan karena tanggul merupakan harapan terakhir, karena posisinya berada paling luar dari kolam penampungan lumpur," katanya.

Selain melakukan pengurukan supaya posisi tanggul menjadi tinggi,  penguatan tanggul juga dilakukan dengan cara memasang "bronjong" yang mengelilingi tanggul penahan lumpur.

"Dengan menggunakan `bronjong` kekuatan tanggul menjadi bertambah karena kekuatan `bronjong` memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan dengan tanggul yang hanya terbuat dari urugan tanah," katanya.

Selain mengantisipasi musim hujan, pembuatan tanggul tersebut dilakukan untuk mengantisipasi tekanan lumpur dari area pusat semburan.

Pusat semburan yang perharinya mengeluarkan 15 ribu meter kubik material lumpur masih sangat mengancam kekuatan tanggul penahan lumpur.

"Apalagi, nyaris setiap hari kawasan Sidoarjo diguyur hujan dan sangat berpotensi terjadinya luapan lumpur dari dalam kolam penampungan," katanya.

Menurutnya, jarak permukaan lumpur dengan tanggul sudah dekat seperti yang ada di tanggul Jatirejo yakni lumpur hanya berjarak satu sampai meter dari permukaan tanggul.

Kondisi itu, tentunya sangat berbahaya karena jika sewaktu-waktu hujan mengguyur, maka volume lumpur akan meningkat drastis.

Besar kemungkinan gunung lumpur yang ada di pusat semburan mengalami "sliding" atau longsor dan berakibat pada tanggul yang "overtopping" karena tekanan yang begitu kuat.

Saat ini, untuk mengantisipasi luapan lumpur, BPLS juga masih menunggu pengerjaan pond (kolam penampungan lumpur) baru pada tiga desa di Kecamatan Jabon.

Beberapa alat berat seperti eskavator telah diterjunkan untuk melakukan pengerukan dan perataan tanah.

Batu dan bahan "bronjong" juga telah disiapkan dan diletakkan di sekitar tanggul serta diproyeksikan tanggul tersebut bisa digunakan pada tahun 2011.

Tim Riset Russian Geological Research Institute Russian Academy of Sciences, Dr Sergey V Kadurin yang melakukan penelitian atas bencana lumpur di Sidoarjo mengatakan, berdasarkan riset yang telah dilakukan bencana ini terjadi akibat kembali aktifnya struktur gunung lumpur yang telah terbentuk 150 ribu sampai 200 ribu tahun silam. Gunung lumpur ini kemudian meletus pada 29 Mei 2006.
Menurutnya, tidak ada solusi menanggulangi bencana ini, saat ini yang bisa dilakukan hanya melakukan pengawasan. Berdasarkan hasil pengawasan tersebut nantinya akan digunakan untuk memprediksi tindakan-tindakan yang mungkin dilakukan.

Indonesia dan Rusia dalam hal ini bekerja sama dalam bentuk penelitian bencana lumpur ini guna menemukan kemungkinan-kemungkinan tersebut. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita