Minggu, 27 Mei 2012
Jakarta: Sejak 1722 Setidaknya Ada 3 Episentrum Tercatat
Selasa, 16 November 2010 08:15
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 16/11 (SIGAP) - Banyak pandangan mengatakan Jakarta tidak memiliki episentrum gempa. Gempa yang dirasakan warga Ibukota, merupakan pengaruh gempa yang terjadi di wilayah tetangga. Padahal tercatat, setidaknya ada tiga episenrum di wilayah Jakarta.Secara historis, melalui berbagai penelusuran kearsipan gempa di dunia, termasuk merujuk pada USGS ShakeMap, politikindonesia.com menemukan adanya pusat gempa di wilayah Jakarta.

Pada bulan Oktober 1722 gempa pernah mengguncang wilayah yang kini menjadi kawasan Jakarta Pusat. Kemudian, pada 24 Agustus 1757gempa berkekuatan 7,5 SR mengguncang wilayah Utara di kawasan Pantai Sederhana, Jakarta Utara. Juga pada 16 Maret 1863  kawasan sekitar Benda, Kosambi, Jakarta Utara juga pernah diguncang gempa (lihat foto).

Bahkan, diluar ketiga gempa tersebut, ada beberapa catatan sejarah yang sering menyebut ada gempa hebat lainnya yang pernah menggoyang Jakarta.

Dalam makalah berjudul Observations of the 1761 and 1769 Transits of Venus from Batavia, Dutch East Indies, menyebutkan, pada 1780 gempa bumi mengguncang Batavia dan salah satunya, memorakporandakan Observatorium Mohr, observatorium pertama di Batavia yang dibangun Johan Maurits Mohr. Robert H van Gent pada 1765. Kini dikatakan, lokasi bekas pembangunan observatorium itu diduga berada di Gang Torong di Jalan Kemenangan Raya, Jakarta Barat.

Sebelumnya, Willard Hanna dalam buku Hikayat Jakarta menuliskan, pada 4 dan 5 November 1699 Jakarta juga diguncang gempa. Bangunan gereja yang kini didirikan Museum Wayang porak poranda.

Perdebatan soal gempa yang episentrumnya ada di Jakarta, masih berkepanjangan. Apalagi data tentang kegempaan di Indonesia terbilang cukup minim. Ditambah pula dengan adanya kelangkaan para ahli yang menekuninya.

Tak ada yang perlu dibesar-besarkan soal "ancaman" gempa di Jakarta. Apalagi Jakarta sendiri masuk dalam kategori wilayah beresiko sedang untuk ancaman gempa. Dalam peta zona gempa, ibukota negara masuk kategori 3 - 4 dengan skala 1 - 5. Namun, kewaspadaan tetap merupakan unsur yang tak bisa dikesampingkan. Para ahli dan pemerintah, saatnya melakukan penelitian mendalam yang setidaknya mampu mengidentifikasi fakta sejarah di Jakarta. Termasuk melahirkan peta microzonasi yang berguna bagi masyarakat banyak. (laporan wa prasetya/polindo)

 

Arsip Berita