Minggu, 27 Mei 2012
Uskup Dorong Umat Katolik Bantu Korban Bencana
Senin, 15 November 2010 08:23
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/11 (SIGAP) -  Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang mendorong umat Katolik dalam wilayah Keuskupan Agung Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk membantu para korban bencana alam di Waisor, Mentawai dan Merapi.

"Sisihkan sedikit dari kekuranganmu untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Waisor, Mentawai dan Merapi yang tengah menderita akibat bencana alam," kata Uskup Turang dalam surat gembalanya yang diperoleh di Kupang.

Surat gembala tersebut juga didistribusikan kepada semua paroki atau Gereja Katolik dalam wilayah Keuskupan Agung Kupang agar disampaikan kepada umat Katolik dalam wilayah paroki masing-masing. Keuskupan Agung Kupang membawahi wilayah Kota dan Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Alor.

"Aksi peduli terhadap sesama, terutama kepada para korban bencana alam, harus terus kita galakkan dalam wilayah gereja kita masing-masing untuk disalurkan melalui Komisi Sosial dan Ekonomi Keusukupan Agung Kupang," katanya.

Korban bencana alam, kata Uskup Turang menegaskan, tidak hanya di Waisor Papua Barat, Mentawai di Sumatera Barat dan Merapi di Jawa Tengah, tetapi juga di Timor Tengah Selatan (TTS). "Saya minta agar kita tidak berhenti bersedekah dan beramal, baik secara material (uang, makanan, pakaian, dan falitas lainnya) maupun rohaniah (terus mendoakan para korban) sebagai wujud ikut merasakan apa yang sedang dirasakan sesama di daerah bencana," ujarnya.

Uskup Turang mengatakan dalam konteks lokal NTT, tercatat sekitar 161 kepala keluarga (sekitar 536 jiwa), khususnya 104 balita, 48 ibu menyusui dan delapan ibu hamil, menjadi korban banjir bandang di Desa Skinu, Kecamatan Toeanas, Kabupaten TTS. "Mereka juga membutuhkan bantuan dan kepedulian orang lain untuk meringankan beban yang dihadapi," kata Uskup asal Tataaran, Sulawesi Utara itu.

Romo Magnis Suseno, rohaniwan Katolik, mengatakan bencana yang menimpa sebagian wilayah Indonesia bukan adzab dari Tuhan. “Letusan Gunung Merapi atau tsunami bukan adzab dari Tuhan. Ia semata-mata siklus alam,” katanya kepada SIGAP, di ruang kerjanya, Kampus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Jumat (12/11).

Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh komponen masyarakat selayaknya, harus mempersiapkan sejak dini datangnya bencana. “Sosialisasi dan kesigapan kita sangat diperlukan untuk menghadapi bencana,” katanya. Pemerintah, lanjut Romo Magnis, demikian sapaan akrab Magnis Suseno, bukan tidak berbuat sesuatu untuk mengatasi masalah bencana.

Namun, imbuh Romo Magnis, pemerintah juga membutuhkan sokongan dari berbagai elemen masyarakat seperti LSM, sukarelawan, lembaga pendidikan, Ormas sosial dan keagamaan untuk memberikan bantuan, merekonstruksi infrastruktur, bangunan rumah, lahan pertanian, lembaga pendidikan, fasilitas umum  yang hancur akibat letusan gunung, tsunami maupun banjir bandang. (laporan sofyan badrie/ant)

 

Arsip Berita