Minggu, 27 Mei 2012
Yogyakarta: Energi Gunung Merapi Mulai Berkurang
Senin, 15 November 2010 03:08
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/11 (SIGAP) - Energi Gunung Merapi mulai berkurang, dan kini terus menurun sehingga kondisinya hampir sama dengan saat masa tenang pada akhir Oktober 2010.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar, di Yogyakarta, Minggu  (14/11) mengatakan, energi gunung berapi ini mulai berkurang setelah meletus tanpa henti pada 3-8 November 2010.

Menurutnya, saat ini energi yang dimiliki Merapi hampir sama dengan saat masa tenang pada 26 Oktober hingga 3 November 2010. "Penurunan energi yang tersimpan di gunung ini menjadi salah satu faktor yang mendasari pengurangan radius rawan bencana letusan Merapi di 4 kabupaten," katanya di Media Center Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Yogyakarta.

Selain penurunan energi, katanya, dari pantauan satelit juga dapat diketahui kandungan sulfur dioksida (SO2) di sekitar Merapi mulai menurun, dan ini berarti aktivitas magmatis gunung tersebut juga menurun.

Dirinya mengatakan saat terjadi letusan dalam skala besar pada 5 November 2010, kandungan SO2 mencapai 120 kiloton, namun kemudian menurun hingga 40 kiloton pada 8 November 2010, dan sekarang mulai tidak terdeteksi.

Badan Geologi semula menambah radius rawan terkena bencana letusan Merapi pada 5 November 2010 menjadi 20 kilometer untuk semua kabupaten di sekitar gunung itu.

Namun, sejak Minggu (14/11) pukul 06.00 WIB radius rawan bahaya letusan Merapi diubah untuk 3 kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Klaten dan Boyolali menjadi 10 kilometer, serta Magelang menjadi 15 kilometer. Sedangkan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih dipertahankan pada jarak 20 kilometer.

Radius aman untuk Kabupaten Sleman tetap dipertahankan pada jarak 20 kilometer karena morfologi Merapi telah berubah yaitu ada kawah di puncak yang membuka ke arah selatan dan barat laut. "Oleh karena itu, radius rawan untuk Kabupaten Magelang masih lebih jauh dibanding Kabupaten Klaten dan Boyolali," katanya.

Di Kabupaten Klaten dan Boyolali, lanjutnya, ada halangan berupa sungai yang membuat jarak luncur awan panas ke kedua kabupaten tersebut lebih pendek dibanding ke Sleman dan Magelang.

Selain itu, di puncak Gunung Merapi juga terbentuk kubah lava dan apabila kubah lava tersebut hancur, guguran akan mengarah ke selatan dan barat karena bukaan kawah tersebut.

"Kami akan melakukan evaluasi secara bertahap menyikapi perkembangan aktivitas Gunung Merapi dan tidak menutup kemungkinan bahwa radius rawan untuk Sleman juga akan diubah," katanya.

Badan Geologi bersama BNPB juga memasang alat pendeteksi aliran lahar di semua sungai yang berhulu di Gunung Merapi karena banjir lahar masih tetap menjadi ancaman.

Sungai yang berhulu di Gunung Merapi tersebut adalah, Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Tringsing, dan Kali Apu.

Berdasarkan laporan pemantauan aktivitas Gunung Merapi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), seluruh sungai yang berhulu di Gunung Merapi dipenuhi dengan endapan lahar. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita