Minggu, 27 Mei 2012
Mentawai: ACT Bangun Sarana MCK Pengungsi Tsunami Mentawai
Kamis, 11 November 2010 12:17
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/11 (SIGAP) - Lembaga Kemanusian Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam  masa pemulihan telah memprogramkan pembangunan sarana mandi, cuci dan kakus (MCK) untuk para pengungsi korban  tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat (Sumbar).

Koordinator ACT Ade Badri di Mentawai ketika dikonfirmasi dari Padang, Kamis (11/11) mengatakan, ACT sudah melakukan pemetaan di Desa Pasapuat, Kecamatan Pagai Utara, satu wilayah yang terkena hempasan gelombang tsunami, untuk pembangunan MCK untuk warga di pengungsian.

Dirinya mengatakan, pelaksanaan pemulihan untuk sarana korban tsunami Mentawai sudah dimulai, makanya ACT memfokuskan untuk pembangunan sarana MCK dan pemberian bantuan genset di Desa Pasapuat.

Sasaranya dusun di Desa Pasapuat, artinya setidaknya ada beberapa titik lokasi pengungsian korban tsunami.

"Kita belum pastikan berapa jumlah sarana MCK yang dibangun, tergantung pemetaan di lapangan pada titik-titik pengungsian," katanya.

Terkait pengungsi berada di kawasan perbukitan sehingga dipandang penting tersedianya sarana air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, baik memasak, mandi maupun kasus.

Dalam proses pembangunan sarana MCK, tambahnya, juga diminta swadaya masyarakat yang berada di pengungsian dalam bentuk tenaga sehingga pengerjaan bisa cepat selesai.

"Material untuk MCK dan genset sudah membeli tim ACT ke Padang. Kita berencana pekan ini sudah bisa dimulai, karena survei telah berjalan," katanya.

Ade menilai, pendistribusian bantuan logistik dari berbagai pihak sudah menyentuh ke titik-titik pengungsi, meskipun sesekali dihadapi dengan cuaca buruk.

Menurutnya, medan di Mentawai, cukup punya tantangan dalam pendistribusian bantuan dalam menyentuh titik-titik pengungsian itu.

Bahkan, pengalaman tim ACT sendiri pernah tidur di perahu atau kapal nelayan, karena terhadang gelombang tinggi.

Saat itu, tim "trauma healing" ACT ingin kembali dari Pourorougat menuju Sikakap, yang menjadi Posko utama tanggap darurat bencana tsunami Mentawai.

Namun, pada sore hari dalam pelayaran terjadi badai sehingga terpaksa tidur selama di perahu.

ACT adalah sebuah lembaga kemanusiaan yang mengkhususkan diri pada penanganan bencana alam dan bencana kemanusiaan secara terpadu (Integrated Disaster Management), dari mulai emergency, rescue, medis, relief, hingga rekonstruksi dan recovery (pemulihan).

ACT berdiri pada 2005 sebagai institusi resmi dan mandiri. Program yang ditangani berkembang tidak lagi hanya berkisar pada bencana alam, namun juga mengembangkan konsentrasinya pada bencana sosial atau bencana kemanusiaan.

Termasuk di antaranya, gizi buruk, rawan pangan, anak-anak, masalah kesehatan dan sanitasi lingkungan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pembangunan masyarakat, hingga konflik sosial. (laporan rusman/ant)


 

Arsip Berita