Minggu, 27 Mei 2012
Malang: 48 Warga Masih Mengungsi
Kamis, 11 November 2010 07:59
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/11 (SIGAP) - Sebanyak 48 orang warga Desa Tumpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, masih mengungsi ke sanak keluarga di desa sekitar akibat genangan air setinggi 30 sentimeter - 2 meter yang hingga Rabu (10/11) belum surut.

Genangan air muncul sejak Minggu (7/11) setelah hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Malang.

Camat Kalipare, Lambok Sihombing, mengungkapkan, genangan air sudah biasa ditemui di pusat Desa Tumpakrejo setiap kali hujan deras. Ini karena bentuk topografi wilayah ini menyerupai kuali, dikelilingi gunung-gunung kapur melingkar dan di bagian tengah landai. Karena kondisi ini, warga bisa bermukim di wilayah bawah.

Ruas jalan Kalipare – Donomulyo juga tergenang. Akibatnya, arus lalu lintas di ruas jalan kabupaten ini terputus. ”Biasanya setiap kali banjir atau hujan deras muncul genangan, hanya dalam waktu tiga hingga empat jam kemudian wilayah ini sudah kering lagi. Desa Tumpakrejo berada di wilayah pegunungan kapur selatan, banyak rongga-rongga sungai dan goa bawah tanah,” katanya.

Menurut penjelasan yang diterima dari petugas Dinas Pengairan Kabupaten Malang, kata Lambok, saluran menuju sungai bawah tanah tempat keluarnya genangan tersumbatan batang pohon kelapa. ”Sumbatan ini ada sejak tahun lalu dan sudah diupayakan pembersihannya. Namun, hanya bisa setengah batang pohon kelapa karena letaknya di dalam,” ujarnya.

Kepala Subbagian Sandi dan Telekomunikasi Pemkab Malang Bagyo Setyono menjelaskan, saat ini genangan air di Desa Tumpakrejo tersisa 2 – 3 meter. ”Tempat pembuangan air ada di wilayah genangan sehingga sulit dilakukan perbaikan. Jadi, jalan keluarnya hanya menunggu genangan surut, yang kami harapkan bisa terjadi beberapa hari ke depan,” tuturnya.

Berbagai pihak yang berhubungan dengan penanggulangan bencana, menurut Bagio sudah mengunjungi lokasi. PMI, menurutnya, tidak membuat tenda pengungsian karena warga merasa cukup dengan mengungsi ke rumah sanak kerabat. Lalu lintas di wilayah yang tergenang hanya bisa dilakukan dengan menggunakan perahu karet.

Dr Ahmad Barizi, warga Malang, mengatakan menjadi tanggungjawab pemerintah untuk menanggulangi dampak banjir. “Kendati pengungsi belum membutuhkan lokasi khusus pengungsian tapi antisipasi menyediakan lokasi khusus pengungsi perlu mendapat perhatian,” katanya kepada SIGAP, Kamis (11/11).

“Jangan berfikir jangka pendek, apalagi saat ini sudah musim hujan. Kemungkinan banjir tidak hanya datang sekali,” imbuh dosen sebuah perguruan tinggi di Malang ini. Ahmad Barizi, berharap penanggulangan bencana, termasuk banjir harus komprehensif.

Termasuk di dalamnya kampanye penghijauan, pendidikan bencana untuk kalangan anak-anak maupun generasi muda. Tegasnya, kata Ahmad Barizi, kita membutuhkan pendidikan kebencanaan yang memberikan kesadaran bahwa negeri ini rawan bencana. (laporan sofyan badrie/kompas.com)

 

Arsip Berita