Minggu, 27 Mei 2012
Gunung Merapi Masih Luncurkan Awan Panas
Kamis, 11 November 2010 06:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/11 (SIGAP) - Intensitas letusan Gunung Merapi pada Kamis pukul 00.00-06.00 WIB menurun, namun gunung api tersebut masih tetap mengeluarkan awan panas yang terpantau satu kali dengan arah ke Kali Gendol pada pukul 05.20 WIB.

Menurut Laporan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono, Kamis (11/11), luncuran awan panas tersebut berjarak sekitar 3 kilometer ke arah Kali Gendol.

Luncuran awan panas tersebut disertai dengan bumbungan asap yang cukup tinggi yaitu sekitar 800 meter yang teramati dari pos pengamatan Gunung Merapi di Ketep.

Selain awan panas, petugas pos pengamatan Gunung Merapi juga masih tetap mendengar adanya suara gemuruh dengan intensitas lemah dan masih terjadi hujan abu di pos pengamatan Ketep.

Sementara itu, dari pemantauan aktivitas kegempaan Gunung Merapi diperoleh hasil, bahwa sudah tidak terjadi gempa vulkanik, multiphase, low frequency hingga pukul 06.00 WIB.

Namun, gempa tremor masih tetap terjadi secara beruntun dan terjadi 7 kali guguran.

Aktivitas kegempaan Gunung Merapi terus menunjukkan kecenderungan mereda sejak Selasa (9/11), dengan 7 kali gempa vulkanik, 4 kali gempa low frequency, gempa tremor beruntun, 35 kali guguran, 2 kali awan panas dan 2 kali gempa tektonik.

Pada Rabu (10/11), aktivitas kegempaan yang tercatat pada alat pemantauan di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) adalah 5 kali gempa vulkanik, gempa tremor beruntun, 9 kali guguran dan 1 kali awan panas.

Namun demikian, Surono mengingatkan bahwa endapan lahar hasil erupsi Gunung Merapi telah teramati di semua sungai yang berhulu di Gunung Merapi baik di sisi tenggara, selatan, barat daya, barat dan barat laut.

Sungai yang sudah dipenuhi dengan endapan lahar tersebut adalah Kali Woro, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu.

Di Kali Boyong, lahar telah terendapkan di Desa Purwobinangun Sleman yang berjarak 16 kilometer (km) dari puncak Gunung Merapi dan juga di Kali Batang pada jarak 10 km dari puncak gunung tersebut.

Status Gunung Merapi masih dinyatakan "awas" dan masyarakat tetap diminta waspada dengan ancaman sekunder letusan berupa banjir lahar.

Sbelumnya, ahli vulkanologi dari Universitas Kyoto, Jepang Masato Iguchi, di Yogyakarta, Rabu (10/11) mengatakan, letusan Gunung Merapi yang terus menerus sulit diprediksi. Namun, yang perlu dilakukan adalah mencermati magma yang terkandung di dalam perut gunung ini.

"Langkah yang perlu dilakukan saat ini adalah memperkirakan magma yang masih terkandung di perut bumi, khususnya di dalam perut Gunung Merapi," katanya.

Menurutnya, masalah seperti ini sering ditemui di berbagai letusan gunung berapi lainnya, bukan hanya Gunung Merapi. "Oleh karena itu, ke depan yang juga perlu dicermati adalah kondisi magma di perut Merapi," kata Iguchi di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.

Meski demikian, dirinya memuji langkah yang diambil Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), karena mampu melakukan prediksi cukup tepat sebelum terjadi letusan pada 26 Oktober 2010, dimana sehari sebelumnya PVMBG memutuskan menaikkan status aktivitas Merapi dari "siaga" menjadi "awas". (laporan ari prahasta/ant)


 

Arsip Berita