Minggu, 27 Mei 2012
KPAN: Banyak Kabupaten Di Papua Kurang Peduli HIV/AIDS
Kamis, 11 November 2010 05:41
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/11 (SIGAP) - Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Nafsiah Mboi, Kamis (11/11) mengatakan, banyak kabupaten di Provinsi Papua terkesan kurang peduli dalam upaya pencegahan HIV dan AIDS.

Lebih lanjut Nafsiah mengatakan sebagian besar kabupaten di Papua tidak menganggarkan dana untuk mendukung program KPAD dalam menanggulangi masalah HIV dan AIDS. Kalaupun ada, menurutnya anggaran yang dialokasikan sangat kecil.

Dengan kondisi seperti itu, kata Nafsiah Mboi, upaya untuk mencegah penularan HIV dan AIDS di Papua mengalami kesulitan.

Padahal menurutnya, jumlah kasus AIDS di Papua mengalami peningkatan yang sangat cepat melebihi tingkat prevalensi secara nasional dengan pertumbuhan 2,4% dari angka nasional sebesar 0,2%.

Sesuai data KPAN, pada 31 Desember 2009 jumlah kasus AIDS di Papua mencapai 5.500 kasus. Sementara menurut ramalan KPAN, saat ini jumlah orang di Papua yang telah terinfeksi HIV dan AIDS diperkirakan sudah mencapai 21 ribu orang.

Menurutnya, guna menekan laju kasus HIV dan AIDS di Tanah Papua maka Pemerintah Pusat meminta bantuan dana dari lembaga donatur di luar negeri melalui Global Fund.

Dana tersebut dialokasikan ke pemerintah kabupaten/kota di Papua untuk mendukung kegiatan pencegahan, pengobatan dan mitigasi berupa pemberdayaan ekonomi bagi para janda dan yatim piatu.

Menyinggung tentang pertumbuhan kasus HIV dan AIDS yang sangat tinggi di Mimika, Nafsiah mengatakan hal itu tidak lepas dari ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang lebih memadai dari daerah lain seperti klinik pemeriksaan darah dan lainnya.

"Di Timika, pendataan dan diagnosa HIV dan AIDS bisa lebih dini karena ada Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) milik LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro) dibantu oleh Departemen Public Health and Malaria Control (PHMC) PTFreeport Indonesia serta Pemda sehingga jumlah kasus terus meningkat," jelas Nafsiah.

Sedangkan di daerah lain terutama di pedalaman Papua, fasilitas klinik pemeriksaan HIV dan AIDS masih sangat minim sehingga data jumlah orang yang terinfeksi kurang diyakini keakuratannya.

"Kami mengakui masih tingginya kasus infeksi baru di Papua karena masih banyak orang yang melakukan kegiatan seks berisiko dengan tidak memakai kondom. Padahal kami sudah memenuhi permintaan kabupaten/kota baik kondom laki-laki maupun kondom perempuan karena untuk Papua pemakaian kondom memang prioritas," jelasnya.

Dirinya mengharapkan peran aktif dari berbagai komponen terkait untuk mendidik masyarakat Papua agar bertanggung jawab terhadap kesehatannya.

"Kesehatan itu milik kita pribadi dan harta kita sehingga kita sendiri harus bertanggung jawab atas kesehatan diri kita," imbau Nafsiah.

Nafsiah mengatakan, KPAN berencana melakukan survei epidemi AIDS di Papua tahun 2011 atau 2012 jika tersedia alokasi dana guna membaharui data hasil survei tahun 2006.

Sesuai data terbaru KPAN, katanya, saat ini infeksi baru HIV pada perempuan di Indonesia mencapai 52 persen yang berarti terjadi feminisasi kasus HIV.

Dari jumlah sekitar 2 juta kaum perempuan yang terinfeksi di Indonesia, sekitar 1,6 juta diantaranya merupakan ibu-ibu rumah tangga dan sisanya sekitar 230 ribu adalah wanita pekerja seks.

Sementara itu, temuan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, semakin tinggi mencapai 206 orang yang terdiri dari berbagai kelompok.

Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Langsung Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Nur Munawaroh, Kamis mengemukakan, temuan kasus itu setiap tahun selalu meningkat. Dari jumlah 206 temuan itu, didominasi dari kelompok PSK dan ibu rumah tangga.

Lebih lanjut Nur mengatakan, temuan Oktober 2010 ini saja mencapai 56 kasus. Untuk kelompok PSK temuan selama bulan ini mencapai 16 orang, sementara kelompok ibu rumah tangga mencapai 15 orang.

"Untuk temuan kasus, saat ini lebih didominasi PSK dan ibu rumah tangga. Jumlah temuan dari dua kelompok itu hampir sama," ujarnya mengungkapkan.

Nur menjelaskan, jumlah temuan itu menunjukkan peningkatan kelompok ibu rumah tangga yang semakin tinggi. Kelompok ini menjadi korban, karena kecil kemungkinan tertular dari luar.

"Kemungkinan besar, yang membuat kelompok ini (ibu rumah tangga) tertular dari pasangannya. Dari survei yang kami lakukan, potensi peningkatan juga semakin tinggi," paparnya.

Nur juga mengatakan, dari temuan tersebut 33% dari berbagai kelompok seperti para pelanggan, TKI, sopir, maupun gay, sementara sisanya adalah kelompok perempuan.

"Rata - rata kelompok yang terkena dari usia produktif, 20 - 40 tahun, 33% dari laki - laki dan biseksual sementara sisanya dari perempuan," ucapnya menambahkan. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita