Minggu, 27 Mei 2012
1.051 Rumah di Jatinangor Terendam Banjir
Rabu, 10 November 2010 06:44
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 10/11 (SIGAP) - Akibat hujan lebat yang terjadi hari Selasa (9/11) malam, sebanyak 1.051 rumah di 4 desa di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, terendam banjir dadakan.

Ketua RW 08 Desa Cikeruh, Yayat Ruhiyat, menjelaskan selain merendam rumah warga hingga setinggi 3 meter, beberapa puluh rumah pun roboh karena terjangan air bah. Tiga desa yang menjadi korban banjir dadakan tersebut adalah Cikeruh, Sayang, Mekargalih dan Cipacing. Desa yang paling parah meterjang musibah tersebut, Desa Cikeruh dimana rumah yang terendam mencapai 451 rumah.

"Air di sebagian rumah sekarang sudah surut, namun bukan berarti mengurangi masalah yang ditimbulkan. Baik warga yang rumahnya masih terendam ataupun sudah surut, tetap harus ditampung di posko yang dibuat di beberapa titik, tersebar di empat desa," jelasnya.

Kondisi para korban, kata Yayat, cukup memprihatinkan, karena terbatasnya posko atau tenda darurat yang bisa menampung mereka. Selain minimnya jumlah tenda, persedian makanan dan sembako pun dirasakan masih sangat kurang.

"Untuk air bersih kita sudah usahakan, dan dikirim bantuan satu tanki dari PDAM Kabupaten Sumedang. Namun untuk persedian beras misalnya, di dapur umum hanya tersedia untuk makan siang saja," katanya. Sejauh ini, menurut Yayat, masyarakat belum bisa pulang ke rumah mereka masing-masing, karena dikhawatirkan akan terjadi banjir susulan lagi, mengingat curah hujan yang terjadi tiap hari sangat tinggi.

Dari pantauan di lokasi, masyarakat masih terus mencoba menyelamatkan barang-barang yang tersisa dari rumah mereka. Akibat banjir ini pun, anak-anak tidak bisa sekolah karena pakaian seragam dan alat tulis mereka tidak terselamatkan.

Faisal Haq,  peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), mengaku prihatin atas banjir yang merendam 1.051 rumah. “Terus terang, saya kira kita harus segera membenahi lingkungan yang ada di sekitar kita. Karena bencana selalu mengintai,” katanya kepada SIGAP, Rabu (10/11).

Langkah ini, menjaga, memelihara lingkungan, misalnya tidak sembarangan membuang sampah di sungai, menurut alumnus Universitas Gajah Mada (UGM), kendati merupakan tindakan paling minimal, namun dapat mencegah timbulnya banjir. “Umumnya, masyarakat kita lalai bahkan abai terhadap lingkungan sekitarnya,” imbuh wartawan senior ini.

Lebih lanjut Faisal mengharapkan pemerintah setempat, dapat segera mengevakuasi korban. “Jangan sampai ada korban jiwa. Selain itu, proses penyaluran bantuan, baik sandang, pangan, obat-obatan, air bersih, dan lain semacamya,  segera dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak seperti aparat keamanan, maupun lembaga, LSM, maupun relawan,” tegasnya. (laporan sofyan badrie/ant)

 

Arsip Berita