Minggu, 27 Mei 2012
Aktivitas Kegempaan Anak Krakatau Terus Meningkat
Selasa, 09 November 2010 07:05
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 9/11 (SIGAP) - Aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, hingga Senin (8/11) malam terus meningkat dibandingkan Minggu (31/10) sehingga status masih dinyatakan "waspada" atau level II.

Demikian dikatakan Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau, Cinangka, Anton Triambudi. Lebih lanjut dirinya menyebutkan, sepanjang Senin (9/11) aktivitas kegempaan vulkanik meningkat hingga mencapai 729 kali dan sebagian besar didominasi gempa letusan dan hembusan.

Dari 729 kali tersebut di antaranya vulkanik dalam (VB) sebanyak 31 kali, gempa vulkanik dangkal (VD) 221 kali, letusan 178 kali, tremor 151 kali, dan hembusan 148 kali.

Sedangkan, aktivitas kegempaan vulkanik sepanjang Minggu sebanyak 585 kali terdiri dari vulkanik dalam (VB) sebanyak 31 kali, vulkanik dangkal (VD) 228 kali, letusan 178 kali dan embusan 148 kali.

Meskipun terjadi peningkatan intensitas kegempaan vulkanik, tapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Bandung, Jawa Barat, masih dinyatakan "waspada" dan belum dinaikkan menjadi "siaga".

Kondisi demikian, PVMBG mengimbau nelayan dan wisatawan dilarang mendekati kawasan Anak Krakatau karena sangat membahayakan terkena lontaran bebatuan kerikil yang suhunya mencapai 1.000 derajat Celcius.

"Kami hanya memperbolehkan dengan radius dua kilometer dari titik letusan," katanya.

Menurutnya, aktvitas kegempaan vulkanik Anak Krakatau pernah terjadi tahun 2007 lalu hingga mengeluarkan awan panas namun tidak menimbulkan korban jiwa.

"Saya sudah memberikan imbauan-imbauan kepada pengelola hotel dan restoran serta pemilik obyek wisata agar melarang pengunjung ke Anak Krakatau," ujarnya.

Dirinya menyebutkan, aktivitas kegempaan Anak Krakatau tidak menimbulkan gelombang tsunami di pesisir Banten dan Lampung.

Karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat pesisir Banten diminta tidak termakan isyu yang menyesatkan.

"Kami menjamin masyarakat pesisir Banten relatif aman dan tidak terpengaruh adanya aktivitas gempa Anak Krakatau," katanya.

Berdasarkan catatan SIGAP, Anak Krakatau muncul setelah Gunung Krakatau meletus. Letusan terdahsyat dari Gunung Krakatau (Krakatoa) terjadi pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Ketika itu, awan panas dan tsunami mengakibatkan sekitar 36.000 jiwa tewas. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia.

Suara letusan gungung terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut.

Pasca meletus dan hancurnya Gunung Krakatau pada 1883, baru sejak pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari Kawasan Kaldera Purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kni Gunung Anak Krakatau sedang mengalami letusan bersama gunung berapi lainnya di Indonesia. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita