Minggu, 27 Mei 2012
FPRB Diminta Sosialisasikan Rumah Bidai
Selasa, 18 Mei 2010 05:16
AddThis Social Bookmark Button

Bengkulu, 18/5 (ANTARA) - Forum pengurangan risiko bencana yang beranggotakan 30 lembaga pemerintah dan non pemerintah diminta aktif mensosialisasikan kearifan lokal masyarakat Bengkulu agar membangun rumah bidai yang terbuat dari bahan bambu dan kayu.

"Semua anggota forum ini harus berperan aktif mensosialisasikan penggunaan desain bangunan rumah bidai sebagai hunian yang bisa mengurangi dampak risiko bencana khususnya gempa bumi di Bengkulu," kata Koordinator Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Bengkulu Nurkholis Sastro, Selasa.

Forum yang diinisiasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bengkulu tersebut terdiri atas lembaga perguruan tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media massa dan instansi terkait yang bertujuan untuk mengurangi dampak risiko bencana selain sejumlah kampanye, pendidikan dan lainnya.

Kondisi geografi Bengkulu yang berada di pertemuan dua lempeng aktif yakni Indoaustralia dan Eurasia serta adanya patahan Sumatra (Sumatran fault) membuat daerah ini berada pada zona merah rawan bencana gempa.

Mengutip penelitian Fakultas Teknologi Universitas Bengkulu, kata dia, sejak tahun 1973 hingga 2008 telah terjadi 1.200 kali gempa di daerah ini.

"Yang paling berpengaruh adalah gempa tektonik pada 1979 dengan kekuatan 6,2 SR di Kabupaten Kepahiang dan dampaknya amat besar dan gempa tahun 2000 berkekuatan 7,3 SR, terakhir gempa pada 2007 dengan 7,9 SR," katanya.

Sementara, dari penelitian Yayasan Layak terhadap rumah-rumah yang roboh total akibat gempa pada 2007 dengan kekuatan 7,9 SR sebagian besar adalah rumah permanen yang terbuat dari batu bata atau beton.

Sementara rumah yang berbahan utama kayu dan bidai dengan bahan utama bambu terbukti mampu bertahan dari goncangan dan goyangan gempa.

"Menggunakan bahan baku kayu mungkin sangat mahal karena kayu sudah langka tetapi dengan bidai lebih sederhana bahannya sebab kami melihat banyak masyarakat yang kembali membangun rumah bidai dengan bambu sebagai pengganti batu bata," jelasnya.

Perkembangan bangunan rumah bidai saat ini dilakukan oleh mayarakat di beberapa desa di Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara.

(T.K-RNI/C/I016/I016) 18-05-2010 10:47:42 NNNN

 

Arsip Berita