Minggu, 27 Mei 2012
Gresik: Ratusan Hektare Sawah dan Tambak Tergenang Banjir
Senin, 08 November 2010 05:44
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 8/11 (SIGAP) - Banjir di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, masih menggenangi 14 Desa dan mengakibatkan ratusan hektare tambak dan sawah terendam.

Kapolsek Cerme AKP Udin Syafrudin Senin, (8/11)  mengatakan, desa di Kecamatan Cerme yang tergenang banjir adalah Desa Lengkong, Dampaan, Duro, Dadap Kuning, Burang Anyar, Morowudi, Iker-Iker, Geger, Dongos, Betiting, Suko Anyar, Njono, Pandu, Landean, dan Desa Kandangan.

Selain itu, ada 2.175 rumah terendam, 568 hektare sawah dan 274 hektare tambak juga tergenang banjir. Jalan Poros Desa (JPD) 16.360 meter. Kerugian total untuk banjir di Kecamatan Cerme mancapai Rp945 juta.

"Sekarang banjir mulai begeser ke Kecamatan Cerme bagian utara. Pagi ini, tambak-tambak di Desa Tambak Beras (wilayah Cerme Utara) mulai terendam banjir," katanya.

Kapolsek memaparkan, Senin pagi air masih juga menggenangi Jalan Raya Cerme sepanjang 600 meter, sedangkan Minggu (7/11) sore sekitar satu kilometer. Kendati demikian, banjir mengakibatkan kemacetan cukup panjang.

"Pagi tadi, banjir di Jalan Raya Cerme di Desa Morowudi sedalam 15 centimeter mengakibatkan kemacetan. Volume kendaraan sangat padat, masyarakat beraktifitas seperti berangkat kerja, sekolah, atau lainnya," terang AKP Udin Syafrudin.

Pertigaan Morowudi merupakan jalur utama penghubung Kecamatan Menganti dan Benjeng menuju ke arah kota.

Dirinya memprediksi, banjir akan segera surut jika tidak ada hujan, dari wilayah Mojokerto yang hilirnya terdapat Kali Lamong anak Bengawan Solo yang meluap di wilayah Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Kedamean, dan Menganti.

Selain merendam ribuan rumah, banjir di Kecamatan Cerme juga menggenangi ratusan hektare tambak yang mengakibatkan kerugian ratusan juta rupiah.

"Ratusan hektare tambak udang petambak di Cerme merugi karena banjir. Paling banyak adalah jenis vaname dengan sistem tradisional," kata Ahmad Dahlan, Ketua Himpunan Budi Daya Ikan Kabupaten Gresik.

Namun, dia mengaku belum mengitung pasti kerugian yang dialami petambak di Cerme. Tapi kemungkinan mencapai ratusan juta rupiah. Rinciannya, untuk satu hektare tambak vaname bisa menghasilkan 200 kilogram dan harganya Rp30 ribu perkilogram.

"Namun, banjir rutin seperti ini biasanya sudah diprediksi oleh petambak, sehingga mereka bisa meminimalisasi kerugian. Spekulasi mereka sudah matang," tuturnya menjelaskan.

Para petani berharap pemerintah memberikan bantuan benih kepada para petambak yang terkena musibah banjir.

"Saat ini memang ada bantuan benih dari pemerintah, satu kecamatan sepuluh orang, masing-masing orang senilai Rp6 juta. Tapi, ini tidak merata," tandasnya.

Sementara itu, di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dalam satu bulan terakhir ini banjir terjadi dalam beberapa kali.

Menurut Wakil Bupati Poso, Syamsury, Senin (8/11), banjir yang terjadi diwilayahnya itu diakibatkan adanya perambahan hutan.

Di sela-sela melantik 3 camat, Syamsury mengatakan, perambahan hutan terjadi karena ada sebagian warga yang sengaja "menjual" hutan ke pihak lain secara ilegal.

"Perambahan hutan yang terus terjadi menjadi salah satu yang menyebabkan terjadinya berbagai bencana belakangan ini di Kabupaten Poso," katanya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan bencana lagi, Syamsury mengatakan pimpinan wilayah mulai tingkat desa hingga kecamatan diharapkan bisa berperan lebih untuk mendeteksi setiap potensi bencana di wilayahnya. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita