Minggu, 27 Mei 2012
Akibat Erupsi Besar Kawah 400 Meter Terbentuk Di Puncak Merapi
Sabtu, 06 November 2010 15:25
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/11 (SIGAP) - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Sabtu (6/11) mengatakan, pascaletusan 26 Oktober, telah terbentuk kawah 200 meter di puncak gunung.

Lebih lanjut dikatakan, letusan yang terjadi 4 November diperkirakan 10 kali lebih besar dibanding 26 Oktober lalu, maka katanya, kawah yang terbentuk juga diperkirakan lebih besar mencapai 400 meter.

Namun demikian, lanjut Sukhyar, pihaknya belum dapat memastikan secara pasti luas kawah dan morfologi puncak Gunung Merapi karena puncak gunung tersebut masih terus tertutup kabut sehingga menghambat pemantauan secara visual.

Dirinya mengatakan, masyarakat agar terus waspada karena aktivitas Gunung Merapi masih tetap tinggi berdasarkan data pengamatan secara instrumental dengan menggunakan seismograf di BPPTK.

"Fluktuasi Gunung Merapi masih cukup tinggi sehingga status Merapi masih tetap awas dan daerah terdampak juga masih tetap sama yaitu radius 20 kilometer (km)," katanya.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, endapan awan panas bisa mencapai jarak 12 km di Kali Boyong dengan ketebalan hingga 10 meter.

Oleh karena itu, lanjutnya, ancaman Gunung Merapi tidak hanya awan panas tetapi juga banjir lahar apalagi saat terkena hujan yang cukup lebat di lereng gunung.

"Masyarakat tetap diimbau untuk menjauhi bantaran sungai karena dinding bantaran sungai itu bisa tergerus atau jika tidak memiliki kepentingan, jangan terlalu lama beraktivitas di jembatan," katanya.

Sejumlah alur sungai yang perlu dihindari adalah Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Krasak, Kali Senowo, Kali Trising dan Kali Apu.

Saat ini, lanjutnya, BPPTK masih mengusahakan untuk menambah alat pemantauan di tiga titik menggantikan tiga seismometer yang rusak karena terkena letusan Gunung Merapi.

Namun demikian, dirinya mengatakan, pengamatan dan kemampuan analisis perkembangan aktivitas gunung tidak terganggu meskipun alat rusak karena masih tersisa satu seismometer di Plawangan.

Sukhyar memperkirakan, jumlah material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi sejak 26 Oktober hingga sekarang telah mencapai sekitar 100 juta meter kubik.

Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai sejumlah isu yang berkembang di masyarakat, sepertri adanya isu yang menyebutkan bahwa Gunung Merapi akan mengeluarkan gas beracun. "Saat terjadi erupsi, gas akan dihasilkan oleh gunung seperti karbon dioksida atau belerang, tetapi gas tersebut hanya akan terkonsentrasi di sekitar puncak. Kalau sudah terendapkan lama, gas-gas itu akan hilang dengan sendirinya," ujarnya.

Sementara itu, pakar Geologi Universitas Pembangunan Nasional `Veteran` Yogyakarta, Sari Bahagiarti mengatakan, letusan Gunung Merapi yang sering terjadi adalah tipe letusan kombinasi Piropilastika, yakni letusan gunung yang memuntahkan materi vulkanik dan awan panas yaitu kerikil maupun pasir halus.

Lebih lanjut dikatakan, berdasarkan catatan sejarah di tata dasar gunung api, letusan pada 1930 merupakan letusan yang paling besar yang menewaskan 300 jiwa dengan jarak luncur awan panas atau `wedus gembel` mencapai 12 kilometer dan itu merupakan jarak luncur paling jauh.

Menurutnya, aktivitas Gunung Merapi saat ini sangat aneh dan sulit untuk diprediksi kemana arahnya, namun yang jelas arah luncur awan panas menyesuikan dengan jalurnya yakni pada alur lembah.

Dirinya mengatakan aktivitas Gunung Merapi ini juga dapat mengalami kenaikan maupun penurunan sesuai dengan faktor lingkungan yang ada di sekitar Gunung tersebut. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita