Minggu, 27 Mei 2012
Klaten: Tim SAR Belum Evakuasi Korban Merapi
Sabtu, 06 November 2010 14:17
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/11 (SIGAP) - Tim "Search and Rescue" Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, belum dapat mengevakuasi korban erupsi Gunung Merapi di beberapa desa di kawasan rawan bencana karena kondisi gunung tersebut masih tidak pasti.

Demikian dikatakan Sekretaris Umum SAR Klaten Deni Nur Indragani di Klaten, Sabtu (6/11). Lebih lanjut Deni mengatakan, keselamatan tim evakuator menjadi pertimbangan utama untuk melakukan pencarian korban di lereng Merapi.

Pelaksanaan evakuasi, kata Deni, akan diinstruksikan langsung oleh Komando Distrik Militer 0723 Klaten dengan pertimbangan pemantauan aktivitas Merapi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral .

"Hingga saat ini belum ada instruksi terkait pelaksanaan waktu evakuasi karena aktivitas Merapi masih belum dapat diprediksi dan masih ada kemungkinan terjadi erupsi dalam waktu dekat," katanya.

Meskipun demikian, Deni menjelaskan pihaknya telah membentuk tim evakuasi yang diisi 4 orang yang sewaktu-waktu dapat bergerak sesuai instruksi Kodim.

"Selain itu, kami juga memiliki 6 tim cadangan untuk melakukan proses evakuasi dengan bantuan armada dari Palang Merah Indonesia dan Dinas Pemadam Kebakaran Klaten," katanya.

Deni menambahkan, beberapa alat evakuasi seperti baju antipanas dan masker gas, telah dimiliki dan siap digunakan Tim SAR.

Deni mengatakan pihaknya belum dapat memprediksi waktu pelaksanaan evakuasi dan jumlah warga yang kemungkinan besar menjadi korban di beberapa desa di lereng Merapi.

"Kami tidak dapat memprediksi jumlah korban namun satu orang warga dipastikan meninggal dan jenazahnya masih tertinggal," kata Deni.

Warga tersebut adalah Ratmo Walidi (75), warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, yang dilaporkan meninggal dunia oleh salah satu anggota keluarganya, Darmini.

Sementara itu, Wakil Komandan Grup II Komando Pasukan Khusus Letnan Kolonel Iwan Setiawan mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan PVMBG terkait kondisi Gunung Merapi untuk menginstruksikan pelaksanaan evakuasi.

"Keselamatan evakuator menjadi faktor utama yang membuat kami belum memberikan instruksi pelaksanaan evakuasi," katanya.

Sebelumnya, evakuasi korban lahar panas letusan Gunung Merapi di Dusun Gading, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sabtu (6/11), dihentikan sementara karena Merapi kembali meluncurkan lahar dan awan panas.

Evakuasi yang dilakukan relawan gabungan dari Batalyon Infanteri (Yonif) 403 WP Yogyakarta, Satbrimobda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), SAR serta FKPPI itu terpaksa dihentikan begitu awan panas kembali ke luar ke arah timur dan mengarah ke Sungai Gendol.

"Kami terpaksa menghentikan evakuasi korban karena sejumlah relawan berada hanya sekitar 50 meter dari tepi Sungai Gendol di Dusun Gading," kata Koordinator Tim Evakuasi dari Satbrimobda DIY Susilo.

Susilo mengatakan, pihaknya terus memantau informasi melalui radio "handy talki" (HT) untuk mengetahui setiap perkembangan yang terjadi di Gunung Merapi.

"Sinyal HT akan berbunyi kencang jika Merapi mengeluarkan awan panas, ini yang menjadi patokan kami dalam menjalankan tugas di lapangan, saat para relawan sedang mengevakuasi tadi tiba-tiba sinyal berbunyi keras sehingga teman-teman langsung saya minta turun ke lokasi yang lebih aman," katanya.

Susilo mengatakan, awan panas muncul sekitar pukul 08.44 WIB dan sampai pukul 11.00 WIB masih belum berhenti sehingga diputuskan untuk menghentikan evakuasi. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita