Minggu, 27 Mei 2012
Jumlah Korban Meninggal Letusan Merapi 49 Orang
Jumat, 05 November 2010 04:11
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/11 (SIGAP) – Berdasarkan informasi instalasi Forensik Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, jumlah korban meninggal dunia akibat letusan Gunung Merapi pada Jumat (5/11) dini hari mencapai 49 orang, sedangkan luka bakar berat sebanyak 66 orang.

Menurut keterangan dari Rumah Sakit (RS) Sardjito Yogyakarta, Jumat (5/11), korban meninggal dunia terdiri atas 23 pria dan 26 perempuan. korban meninggal dunia dan  luka bakar berat merupakan penduduk Kecamatan Cangkringan dan Kecamatan Pakem, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kemungkinan jumlah korban akibat letusan Gunung Merapi tersebut masih bisa bertambah mengingat ada sebagian lokasi yang belum dapat dijangkau akibat lahar yang masih panas, kata anggota Kedokteran Kepolisian Polda DIY Syahrizal di RS Sardjito Yogyakarta.

"Tim evakuasi membutuhkan alat berat dan juga air dalam jumlah yang banyak untuk bisa masuk ke wilayah tersebut dan melakukan evakuasi korban," lanjutnya yang memperkirakan jumlah korban letusan Gunung Merapi tersebut lebih besar dibanding kan letusan pada 26 Oktober.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) dibantu RS Dr Sardjito kini mulai melakukan identifikasi terhadap seluruh korban.

Diinformasikan Dusun Plumbon hancur karena tersapu awan panas dan lahar panas.

Selama aktivitas Gunung Merapi mulai meningkat sejak Rabu  (3/11), berbagi pihak kerap mengimbau kepada masyarakat untuk menjauhi bantaran sungai dengan jarak minimal 300 meter.

Disinyalir, lahar yang masih panas tersebut bisa melimpah hingga ke bantaran sungai, sehingga banyak menyebabkan korban. Banyak korban yang mungkin tidak terkena awan panas secara langsung tetapi terkena limpahan lahar.

Sementara, seperti diinformasikan komunitas peneliti di lapangan yang  diterima kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana  (SKP BSB), bahwa peralatan  yang ada di Merapi, yang sebelumnya lengkap terpasang di puncak gunung, seperti monitor deformasi, deteksi tekanan gas dan magma, saat ini rusak total. “Yang tersisa seismogra saja dan beberapa CCTV,” kata Ir Erick Ridzky, Asisten SKP BSB. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita