Minggu, 27 Mei 2012
Banjir Rendam 10 Desa di Kabupaten Bandung
Kamis, 04 November 2010 08:36
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/11 (SIGAP) - Sedikitnya 10 desa di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terendam banjir akibat hujan lebat yang melanda kawasan timur daerah ini dan Kabupaten Sumedang, sejak Selasa (2/10) sore.

Curah hujan yang tinggi meluapkan beberapa anak Sungai Citarum, antara lain Sungai Cikijing, Cikeruh, dan Sungai Cimande yang melintasi Rancaekek, sehingga kurang dari 5.000 rumah milik 5.491 kepala keluarga terendam mulai ketinggian 50 sentimeter hingga lebih dari 1 meter.
Camat Rancaekek Meman Nurjaman menyebutkan kesepuluh desa tersebut diantaranya Desa Bojongloa, Rancaekek Wetan, Rancaekek

Kulon, dan Desa Tegalsumedang, yang terlintasi Sungai Cikeruh. Desa lainnya, Desa Linggar, Jelegong, Sangiang, Cangkuang, Sukamulya, dan Desa Haurpugur yang terlintasi Sungai Cimande dan Sungai Cikijing.

Meman mengatakan banjir mulai menggenani perumahan warga sekitar pukul 20.00 WIB dan terus meninggi hingga mencapai puncaknya pada pukul 02.00 WIB. "Puncak ketinggian air sampai satu meter terjadi pukul 02.00 WIB, tapi setelah puncaknya, banjir pun segera menyurut hingga sekitar pukul 04.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB, banjir hanya menyisakan genangan-genangannya saja," kata Meman.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa dan banjir hanya bersifat selintas, ujar Meman, pihaknya cukup kerepotan mengevakuasi warga korban dengan dibantu aparat desa, sambil menyelamtkan barang milik warga.

Banjir juga merendam sejumlah bangunan sekolah, mesjid, madrasah, jalan desa dan jalan kabupaten serta pesawahan. "Pagi hari tadi Jalan Raya Rancaekek, di depan Perumahan Bumi Rancaekek Kencana RW 7 dan 9, terputus akibat banjir sedalam 70 cm, sehingga terpaksa arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif Jalan Bojongjati," kata Meman.

Menurut Meman, banjir yang merendam rumah warga hingga ketinggian 110 sentimeter hanya terjadi pada rumah warga yang berdekatan dengan bantaran sungai, dan tidak berlangsung lama dengan jumlah yang terendam tidak begitu banyak. Belum dapat dipastikan kerugian materil yang dialami warga, meski pihaknya sudah melakukan tanggap darurat dan mengajukan bantuan Sembako ke Pemerintah Kabupaten Bandung.

Khatimi Bahri, aktivis lingkungan hidup, mengaku prihatin atas banjir yang telah merendam 10 desa. “Seharusnya pemerintah setempat/Pemkab Bandung segera tanggap menanggulangi banjir. Misalnya, selain mengevakuasi korban, juga memberikan santunan peralatan untuk transportasi seperti perahu karet, pelampung, dan lain semacamnya, sebagai langkah tanggap darurat,” katanya kepada SIGAP, Kamis (4/11).

Selain itu, katanya, pihak Pemkab Bandung dapat merencanakan program revitalisasi hutan dan sungai. “Ini sebagai langkah pencegahan agar banjir tidak semakin merajalela,” ungkap Khatimi Bahri. Kampanye dan sosialisasi tentang peduli lingkungan, lanjut Khatimi Bahri, dengan menanam pohon sejatinya harus segera direalisasikan.

Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Bandung ini menandaskan bencana banjir sejatinya tidak datang tiba-tiba. “Ada proses panjang yang mendahuluinya. Sebut saja misalnya, perilaku sebagian kalangan yang melakukan pengerusakan, pengeksploitaisi alam, hutan, sungai secara tidak bertanggungjawab,” katanya.

Tidak jarang, imbuh Khatimi Bahri, ada permainan antara oknum aparat dengan pengusaha yang mengalihfungsikan hutan sebagai lahan perkebunan. “Inilah salah satu faktor yang sangat dominan penyebab banjir.”

Oleh karena itu, Khatimi Bahri berharap, di masa mendatang, semua komponen masyarakat, termasuk pemerintah, dapat menyadari tentang urgensinya memelihara lingkungan. Pembangunan harus berorientasi pada pembangunan yang ramah lingkungan,” tegas Khatimi Bahri. (laporan sofyan badrie/ant)

 

Arsip Berita