Minggu, 27 Mei 2012
GAK Sesekali Keluarkan Pijaran Lava
Kamis, 04 November 2010 05:33
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/11 (SIGAP) - Gunung Anak Krakatau yang sudah satu pekan berstatus `waspada` atau level II, sesekali mengeluarkan pijaran lava, hal ini membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Bandung, Jawa Barat melarang warga untuk mendekat.

Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Kr di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Anton S Pambudi, Rabu (3/11) mengatakan, pijaran lava sesekali keluar dari perut GAK, dan pijaran tersebut akan terlihat jelas pada malam hari.

Anton menjelaskan, pijaran lava pertama kali terlihat pada 28 Oktober atau bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

"Pantauan kami di pos pemantau, pijaran itu terlihat pada pukul 21. 00 WIB. Kalau siang atau pagi hari pijaran lava tidak terlihat, karena tertutup oleh awan hitam kelabu," katanya.

Sementara itu, kegempaan GAK pada Selasa (2/11) mencapai 722 kali, jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan pada Senin (1/11), yakni sebanyak 729.

"Jumlah kegempaan yang terjadi di Gunung Anak Krakatau masih kisaran 700 kali, dan untuk hari ini data yang ada belum terekap dan dikalkulasikan," katanya.

Secara rinci, dirinya menjelaskan bahwa jumlah kegempaan pada Selasa (2/11), untuk vulkanik dangkal (VA) berjumlah enam kali, vulkanik dalam (VB) 177 kali, letusan 233 kali, tremor 219 kali. Dan pada Hari Senin (1/11), jumlah kegempaan GAK mencapai 729 kali, dengan rincian VB 31, VA 221, letusan 178, tremor 151 dan hembusan 148 kali.

"Untuk ketinggian asap rata-rata 100 sampai 1.700 meter, dengan warna kelabu kehitam-hitaman yang menggumpal," katanya menambahkan.

Sementara itu, Kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKPBSB) menginformasikan, debu berwarna hitam yang dikeluarkan dari perut Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dalam dua hari, Selasai dan Rabu sampai diperumahan warga Kota Cilegon dan Serang.

Sedangkan secara terpisah, pengamat dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Serang, Eko Widiantoro membenarkan, debu berwarna hitam dipemukiman warga di Kota Cilegon dan Serang berasal dari GAK yang sudah satu pekan statusnya waspada atau level II.

"Kecepatan angin di laut saat ini 25 knot, ditambah kecepatan angin di darat 15 knot. Inilah kenapa debu hitam yang berasal dari asap perut GAK sampai di pemukiman warga yang jaraknya mencapai 50 kilometer lebih," katanya menambahkan. (laporan rusman/ant) 

 

Arsip Berita