Minggu, 27 Mei 2012
Merapi Kembali Keluarkan Awan Panas
Rabu, 03 November 2010 04:49
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 3/11 (SIGAP) - Gunung Merapi, Rabu (3/11) pukul 08.00 WIB, kembali mengeluarkan awan panas yang membumbung tinggi mengarah ke barat dan dapat terlihat jelas dari tempat pengungsian Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi (PVMBG) Surono, di Sleman, Rabu (3/11) mengatakan, awan panas masih mungkin terjadi sehingga masyarakat harus tetap berhati-hati.

Dirinya mengatakan pada Rabu pukul 07.48 WIB terjadi tiga kali luncuran awan panas sepanjang empat kilometer ke arah Kali Gendol. Luncuran awan panas itu tidak dibelokkan oleh angin, hanya debunya saja yang bisa terbang ke segala arah.

"Tiga kali luncuran awan panas Rabu pagi ke arah Kali Gendol dengan jarak luncur cukup panjang dan menghembuskan debu ke arah barat daya. Namun demikian, energi awan panas yang dikeluarkan relatif kecil," katanya saat memaparkan kondisi Gunung Merapi di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Posko Utama Penanggulangan Bencana Merapi di Pakem, Sleman, DIY.

Menurutnya, energi kecil tetapi jarak luncur awan panas cukup panjang itu disebabkan tidak ada pepohonan yang dapat mereduksi luncuran awan panas.

"Jarak luncur yang cukup panjang disebabkan tidak ada lagi penghalang berupa pepohonan yang dapat menghambat laju luncuran awan panas. Pepohonan di sekitar Merapi banyak yang roboh dan mati akibat terjangan awan panas pada Selasa (26/11)," katanya.

Dirinya mengatakan radius aman bagi masyarakat tetap 10 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Masyarakat diminta tetap berada di tempat pengungsian, dan tidak beraktivitas di sungai di kawasan kaki gunung atau yang berhulu di Merapi.

"Masyarakat harus bersabar dan tetap di pengungsian hingga status Merapi diturunkan. Selama status Merapi masih awas itu berarti awan panas masih mengancam," katanya.

Status Gunung Merapi hingga kini masih awas karena aktivitas gunung yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu masih tinggi sehingga warga diminta tetap waspada. (laporan ari prahasta/ant)

 

Arsip Berita