Minggu, 27 Mei 2012
NTT: Tiga Gunung Api Tunjukkan Aktivitas
Rabu, 03 November 2010 02:50
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 3/11 (SIGAP) - Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Egon Yoseph Suryanto ketika dihubungi dari Kupang, Rabu (3/11) mengatakan, 3 dari sekitar 16 gunung api di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan semakin menunjukkan peningkatan aktivitas beruntun, setelah berada dalam status waspada sejak April 2010.

Lebih lanjut Yoseph mengatakan, ketiga gunung itu masing-masing Gunung Rokatenda di Pulau Palue (875 meter), Gunung Egon (1.703 meter) yang terletak sekitar 40 kilometer dari Maumere, Kabupaten Sikka dan Gunung Api Lewo Tobi di Kabupaten Flores Timur (sekitar 780 meter) di atas permukaan laut (MDPL).

Namun Yoseph mengatakan, dari ketiga gunung api tersebut, gunung api Egon yang secara rutin menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dibanding dua gunung lainnya masing-masing Rokatenda dan Lewo Tobi yang masih antara meningkat lalu kembali melemah.

"Umumnya peningkatan aktivitas seperti itu akibat adanya aktivitas dari gunung itu sendiri yang mengakibatkan adanya gesekan-gesekan batuan dalam gunung itu, sehingga lama kelamaan terjadi letusan," katanya.

Dirinya menjelaskan, hasil pengamatan langsung petugas pos gunung Api Egon menunjukkan, adanya hembusan awan putih muncul dari kawah mencapai ketinggian 15-25 meter disertai tekanan gas lemah.

Kondisi yang sama juga terjadi pada gunung api Rokatenda dan Lewotobi di Kabupaten Flores Timur yang dipantau secara visual dari Region Egon di Maumere-Flores.

"Memang saat ini ada peningkatan aktivtias visual dan penggempaan, sehingga masyarakat diimbau untuk mewaspadai keadaan ini," katanya.

Bahkan katanya, pada Rabu (27/10) kawah gunung api Egon tertutup kabut, sehingga cukup mengkhawatirkan penduduk sekitar.

Kondisi keadaan ketiga gunung merapi telah dilaporkan ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi serta Badan Vulkanologi Bandung untuk terus melakukan pemantauan terkait aktivitas sejumlah gunung berapi, terutama berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk lebih awal memberi peringatan ke masyarakat yang tinggal di sekitar kaki ketiga gunung itu.

"Kami telah melaporkan status waspada ketiga gunung api ini dan tingkat aktivitas ke pemerintah daerah setempat, sehingga lebih awal memberi peringatan kepada masyarakat agar selalu siap dan siaga, ketika terjadi letusan dapat menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman," katanya.

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Jakarta, Selasa (2/11), meminta masyarakat mewaspadai peningkatan aktivitas sejumlah gunung berapi di Indonesia.

"Ada 19 gunung berapi yang kini menunjukkan peningkatan aktivitas," kata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Jakarta, Selasa, (2/11).

Agung menjelaskan, 19 gunung tersebut berstatus waspada saat ini. "Status gunung berapi itu dimulai dari normal, waspada, siaga dan yang paling tinggi adalah awas, sementara waspada berarti memiliki peningkatan aktivitas," katanya.

Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Pengamatan Gunung Berapi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agus Budianto, Jum’at (28/10) mencatat  ada 18 gunung yang berstatus waspada, 2 siaga dan 1 berstatus awas.

Kedelapan belas gunung yang berstatus waspada adalah Gunung Sinabung (Karo, Sumut), Gunung Talang (Solok, Sumbar), Gunung Kaba (Bengkulu), Gunung Kerinci (Jambi), Gunung Anak Krakatau (Lampung), Gunung Papandayan (Garut, Jabar), Gunung Slamet (Jateng), Gunung Bromo (Jatim), Gunung Semeru (Lumajang, Jatim), Gunung Batur (Bali), Gunung Rinjani (Lombok, NTB), Gunung Sangeang Api (Bima, NTB), Gunung Rokatenda (Flores, NTT), Gunung Egon (Sikka, NTT), Gunung Soputan (Minahasa Selatan, Sulut), Gunung Lokon (Tomohon, Sulut), Gunung Gamalama (Ternate, Maluku Utara),dan  Gunung Dukono (Halmahera Utara, Maluku Utara)

Sedangkan 2 gunung yang berstaus siaga adalah Gunung Karangetang (Sulut) dan Gunung Ibu (Halmahera Barat, Maluku Utara)

Sementara itu 1 gunung bersatus awas yakni Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta.

"Ada 21 yang statusnya waspada hingga awas, dari 68 gunung api bertipe A yang kami pantau," kata Agus seperti yang dikutip detiknews.com.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, gUnung tipe A adalah gunung yang pernah bererupsi sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600. Sedangkan gunung tipe B adalah gunung yang sesudah tahun 1600 tidak lagi mengalami erupsi. Gunung tipe C adalah gunung berapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, atau tidak ada catatan letusannya.

Status bahaya level I atau aktif normal artinya berdasarkan pengamatan visual, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan. Level II atau waspada berarti ada peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya.

Di level III atau siaga, terjadi peningkatan pengamatan kawah secara visual, kegempaan dan metide lain yang saling mendukung. Sedangkan level 4 atau awas, letusan awal mulai terjadi berupa abu/ asap. Hal ini akan diikuti letusan utama. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita