Minggu, 27 Mei 2012
BMKG Sulteng Imbau Masyarakat Waspada
Senin, 01 November 2010 05:48
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 1/11 (SIGAP) - Masyarakat yang bermukim di wilayah-wilayah rawan bencana banjir dan tanah longsor di Sulawesi Tengah diimbau Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk tetap waspada, pasalnya curah hujan di daerah itu cukup tinggi.

"Intensitas curah hujan cukup tinggi dan diperkirakan berlangsung hingga Februari 2011," kata Kepala Stasiun Meteorologi Bandara Mutiara Palu, Isbadi Herjupono,Senin (1/11).

Lebih lanjut dirinya mengatakan, analisis dari foto satelit menunjukkan peningkatan curah hujan cukup tinggi di Sulteng masih berpotensi besar selama November 2010 sampai Februari 2011.

Menurut Isbadi, meningkatnya curah hujan di Sulteng, sangat dipengaruhi oleh siklus global La-Nina.

Dampak La-Nina, tidak hanya melanda Sulteng, tetapi juga hampir menyeluruh di daerah-daerah tingkat curah hujan tinggi, dan sangat berpotensi terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.

Mengingat tingginya curah hujan di Wilayah Sulteng, maka warga perlu mewaspadai, karena sangat memungkinkan terjadinya banjir dan tanah longsor.

Ada beberapa daerah di Sulteng yang selama ini rawan banjir dan tanah longsor, selain Morowali yakni Kabupaten Parigi Moutong, Donggala, Sigi, Tolitoli, Poso, dan Kota Palu.

Daerah-daerah tersebut banyak sungai besar dan anak sungai. Pada saat curah hujan tinggi banjir sewaktu-waktu terjadi. Demikian halnya tanah longsor, sebab struktur tanah pada umumnya labil.

Ketika hujan deras, tanah yang labil dengan mudah longsor. Karena itu, warga yang selama ini bermukim di daerah-daerah rawan banjir dan tanah longsor harus tetap waspada.

Selain curah hujan tinggi, juga gelombang laut di perairan Sulawesi, termasuk Sulteng mencapai satu sampai dua meter. Nelayan diimbau untuk waspada jika melaut.

Berdasarkan catatan SIGAP, La Nina adalah fenomena ketika pengiriman massa uap air dari Pasifik ke Indonesia. Akibat pengaruh La Nina tersebut memberikan indikasi peluang majunya awal musim hujan 2010/2011 di sebagian besar daerah di Indonesia dengan sifat hujan normal dan atas normal.

Awal musim hujan diperkirakan sebagian besar daerah terjadi pada Oktober 2010 sebanyak 105 zona (47,7%) dari 220 zona musim. Sedangkan November sebanyak 77 zona (35%). Jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun (1971-2000), awal musim hujan 2010/2011 sebagian besar daerah yaitu 125 zona musim (56,8%) maju lebih awal terhadap rata-ratanya.

Selain La Nina, akan ada pengiriman massa uap air dari Lautan India ke wilayah Indonesia yang memasuki musim penghujan sehingga intensitas hujan akan bertambah. Meskipun dipengaruhi tiga faktor tersebut, prediksi Indeks Dipole Mode (IDM) September, Oktober, November, Desember 2010 dan Januari 2011 pada kondisi netral.

Hal itu mengindikasikan tidak berpotensi adanya peningkatan maupun pengurangan curah hujan secara berarti di Indonesia bagian barat. Suhu permukaan laut hingga pertengahan Agustus 2010 sebagian besar perairan Indonesia relatif hangat dan pada bulan-bulan berikutnya juga menunjukkan tetap pada kondisi yang sama. (laporan ari prahasta)

 

Arsip Berita