Minggu, 27 Mei 2012
BMKG: Badai Lanina di Sulbar Hingga April 2011
Minggu, 31 Oktober 2010 16:33
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 31/10 (ANTARA) - Kepala Stasiun Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Majene, Edy Sofyan, di Mamuju, Minggu (31/10) mengatakan, badai Lanina di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) akan berlansung hingga April tahun 2011.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, fenomena badai La Nina di Sulbar akan mundur hingga bulan April tahun 2011, sesuai prediksi BMKG secara nasional.

"Secara nasional, badai La Nina akan berlansung hingga bulan April tahun 2011 mendatang sehingga badai Lanina di Sulbar yang tadinya diprediksi akan berakhir pada bulan januari tahun 2011 juga mundur hingga bulan April tahun depan,"katanya.

Edy mengatakan, Sulbar belum mengalami musim kemarau karena fenomena Lanina yang mengakibatkan hujan masih terjadi di wilayah ini.

Dikatakan Edy, curah hujan di Sulbar masih berlangsung dalam intentitas ringan, sedang, dan lebat dengan curah hujan sekitar 100 mililiter per hari dengan kecepatan angin sekitar 35 kilometer per jam, sementara suhu cuaca dipermukaan laut sekitar 30 derajat celcius.

Karena itu, katanya, musim kemarau di Sulbar diperkirakan akan mundur hingga bulan Mei tahun 2011 karena fenomena badai La Nina yang disertai hujan masih melanda daerah ini.

"Hujan di Sulbar lebih banyak dipengaruhi oleh fenomena badai La Nina," katanya. Dirinya mengatakan, setelah badai La Nina berlalu pada bulan April tahun 2011, maka akan terjadi musim kemarau.

Oleh karena itu, dia mengatakan, petani di Sulbar tidak perlu khawatir akan ancaman kemarau seperti yang dikhawatirkan akan terjadi sebelumnya.

"Justru petani harus mengantisipasi banjir jangan sampai hujan lebat terjadi hingga mengancam tanaman pertaniannya sehingga mengalami gagal panen," katanya.
Berdasarkan catatan SIGAP, fenomena La Nina yang menjadi faktor dominan terjadinya musim hujan berkepanjangan tahun 2010 akan berlanjut hingga Juni 2011.

Sementara itu, menurut Koordinator Peningkatan Kapasitas Riset Dewan Nasional Perubahan Iklim, Agus Supangkat di Kampus ITB Bandung, Jumat (24/9) seperti di lansir besteasyseo.blogspot.com mengatakan, fenomena alam terbaru La Nina yang terjadi saat ini mengakibatkan hujan terus menerus pada bulan-bulan yang seharusnya musim kemarau yakni dari Mei hingga September 2010.

Padahal, pada September dalam musim yang normal merupakan musim transisi dari kemarau ke penghujan. Sehingga diperkirakan pengaruhnya cukup besar bagi curah hujan dalam beberapa bulan ke depan.

"Pada 2011 juga La Nina masih kuat, musim kemarau hanya akan terjadi pada Juli dan Agustus, setelah itu hujan lagi. Pengaruhnya merata di kawasan tropis, terutama di wilayah Asia," kata Agus.

Dirinya menyebutkan, pengaruh La Nina merata di seluruh Indonesia. Hujan turun di mana-mana di Indonesia, termasuk di beberapa negara di Asia lainnya.

Siklus La Nina biasanya muncul 7-10 tahun sekali, namun dalam beberapa tahun terakhir muncul lebih awal. Fenomena itu, kata Agus, dipengaruhi oleh aliran sistem air dari Samudera Pasifik.

"Indonesia kebetulan terlewati aliran sistem air (arlindo) dari Pasifik ke Samudera Hindia, jadi itu sangat berpengaruh terhadap musim di Indonesia," kata Agus Supangkat.

Sementara itu fenomena La Nina jelas membuat curah hujan cukup tinggi sehingga bagi kawasan rawan bencana banjir untuk tetap siaga. (laporan rusman/ant)



 

Arsip Berita