Minggu, 27 Mei 2012
Perkembangan Pasca Letusan Gunung Merapi
Kamis, 28 Oktober 2010 18:06
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 28/10 (SIGAP) – Berdasarkan laporan tim Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) yang diterima SIGAP, Kamis (28/10) menyebutkan, sampai dengan pukul 16.30 sebanyak 32 jiwa meninggal dunia dan 10 jiwa mengalami luka. Sedangkan jumlah pengungsi sebanyak 17.776 jiwa.

Berdasarkan pantuan dari Pos PGM Kaliurang, sekitar pukul 16.15 WIB terjadi luncuran awan panas ke arah selatan tenggara. Dan diprediksi mengarah ke kali Gendol dengan jarak luncuran 2 hingga 3 kilometer.

Dilaporkan, sekitar pukul 17.49 WIB di sekitar puncak Gunung Merapi di Kabupaten Sleman terjadi hujan deras.

Seperti diketahui Gunung Merapi merupakan gunung api tipe strato, dengan ketinggian 2980 meter dari permukaan laut. Secara geografis terletak pada posisi 7’ 32.5’ Lintang Selatan dan 110' 26.5’ Bujur Timur, secara administratif terletak pada 4 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng).

Sementara itu, berdasarkan laporan khusus Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) status kegiatan Gunung Merapi ditingkatkan dari Normal menjadi Waspada pada tanggal 20 September 2010, ditingkatkan menjadi Siaga (Level III) pada 21 Oktober 2010, dan sejak 25 Oktober 2010, pukul 06:00 WIB, status kegiatan Gunung Merapi dinaikkan dari ”Siaga” (Level III) menjadi ”Awas” (Level IV).

Letusan (erupsi) Gunung Merapi berupa semburan awan panas terjadi pada hari Selasa 26 Oktober 2010 pukul 17.02 WIB selama sembilan menit diikuti dengan awan panas kecil sebanyak empat kali. Awan panas besar terjadi kembali sebanyak dua kali masing-masing selama 30 menit. Awan panas mulai reda pukul 19.54 WIB.

Setelah kejadian Erupsi 26 Oktober 2010 selama kurang lebih 2 jam (17.02-18.54 WIB), berdasarkan data kegempaan aktifitas vulkanik Gunung Merapi tanggal 27 Oktober 2010 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB menurun. Suara guguran tercatat sebanyak 4 kali. Jumlah ini masih jauh lebih kecil daripada aktifitas sebelum erupsi. Sedangkan aktifitas vulkanik kembali muncul sebanyak tujuh kali gempa.

Upaya Penanganan yang telah dilakukan adalah, pada 26 Oktober 2010 Wakil Presiden mengunjungi posko utama merapi di Pakem dan lokasi pengungsian, serta menyerahkan bantuan siap pakai dari BNPB sebesar Rp. 1.500.000.000,- (satu setengah milyar rupiah) untuk tiga (3) Kabupaten: Magelang, Boyolali, Klaten.  Kemensos Rp. 500.000.000,- dan Kemenkes Rp.200.000.000.

BNPB telah mengirimkan bantuan ke Provinsi DIY berupa 20 unit tenda pleton, 325 buah masker, 75 paket makanan siap saji. Selain itu bantuan juga dikirim untuk Provinsi Jawa Tengah berupa 30 unit tenda pleton, 650 buah masker, 75 paket makanan siap saji.

Kementerian Pekerjaan Umum telah menyediakan 6 unit tangki air, 1 unit truk, 50 hidran umum, 1 unit IPA dan puluhan MCK di lokasi pengungsian di Kab. Sleman Provinsi  DI Yogyakarta. Sedangkan untuk pengungsi di Kab. Magelang telah dikirim 120 unit hidaran umum, 11 unit mobil tanmgki air, 50 unit WC knockdown, 10 unit WC portabel, 1 unit IPA dan 2 unit genset. Sementara itu untuk pengungsi Kab. Klaten telah terpasang 12 unit hidran umum.

Sementara itu, Palang Merah Indonesia (PMI) telah membentuk tim Penanganan bencana merapi yang berkoordinasi dengan Pemda setempat, mempersiapkan Dapur Umum di lokasi pengungsian.

Sementara pada Selasa, 26 Oktober 2010 pukul 17.00 WIB, Direktur Logistik  Deputi Logistik dan peralatan BNPB  beserta Staf meninjau posko Aju Bakowil II Magelang dan bersama tim di posko Aju Prov. Jawa Tengah  meninjau salah satu TPS di Desa Jerukagung di balai desa yang menjadi titik pengungsi dari desa Kemiren dan sekitarnya.

Dilaporkan kebutuhan mendesak berupa makanan, susu bayi, selimut, tenda, alas tidur, masker, perlengkapan mandi, MCK dan obat-obatan. (laporan rusman/skpbsb/bnpb)

 

Arsip Berita