Minggu, 27 Mei 2012
Yogyakarta: Mahasiswa UAD Kembangkan Sistem Monitoring Gunung Berapi
Kamis, 28 Oktober 2010 05:55
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 28/10 (SIGAP) - Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta mengembangkan sistem monitoring gunung berapi jarak jauh dengan alat "multifungsi" yang dapat mendeteksi perubahan suhu, kelembaban udara, tekanan, serta kemungkinan adanya gempa vulkanik, dan gas berbahaya.

Menurut Nur Huda, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang ikut mengembangkan alat monitoring itu, di Yogyakarta, Kamis (28/10) mengatakan sistem monitoring gunung berapi jarak jauh dengan alat yang kami kembangkan ini diharapkan dapat memberi kontribusi bagi upaya pencegahan jatuhnya korban akibat aktivitas gunung berapi, karena alat itu dapat memonitor berbagai perubahan di sekitar gunung.

Dirinya menambahkan, keunggulan sistem monitoring gunung berapi jarak jauh tersebut di antaranya lebih memiliki banyak fungsi dibandingkan dengan alat pendeteksi aktivitas gunung berapi dengan sistem monitoring melalui getaran analog yang selama ini digunakan.

"Sistem monitoring yang kami kembangkan dapat mengetahui perubahan suhu, kelembaban udara, tekanan, dan kemungkinan adanya gempa vulkanik serta gas berbahaya ketika gunung berapi yang dipantau sedang mengalami peningkatan aktivitas vulkanik, atau akan meletus," katanya di sela kegiatan Pameran Merapi Volcano 2010 di gedung Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.

Menurut Huda, sistem monitoring gunung berapi jarak jauh itu sudah dapat ditampilkan pada display secara digital. Ini berbeda dengan alat pendeteksi getaran gunung berapi, seismograf, yang masih menampilkan hasilnya dalam bentuk analog.

"Sistem monitoring getaran masih ditampilkan secara analog, dan hanya melakukan pendeteksian melalui gerakan bumi atau getaran yang ditimbulkan dari aktivitas gunung berapi. Ini berbeda dengan sistem monitoring yang kami kembangkan yang dapat menampilkan hasil pendeteksian secara digital, dan dapat mendeteksi berbagai perubahan keadaan yang diakibatkan dari aktivitas gunung berapi," katanya.

Selain itu, dirinya mengatakan jarak pantauan atau monitoring gunung berapi dapat disetting sesuai kebutuhan dan berdasar pada kepekaan atau sensitivitas reciver sensor. "Radius monitoring jarak jauh saat ini mencapai lima kilometer," katanya.

Huda juga mengatakan sistem monitoring yang dikembangkan pihaknya terdiri atas dua unit piranti yang berfungsi sebagai transmiter atau pengirim perubahan suhu, kelembaban, tekanan dan kemungkinan adanya gempa vulkanik serta gas berbahaya serta reciver atau alat penerima untuk ditampilkan pada display secara digital.

"Sensor yang digunakan adalah sensor suhu, kelembaban, dan tekanan yang didukung dengan piranti keras Axis, MMA yang dipasang pada piranti transmiter, dan dihubungkan dengan piranti reciver di posko pemantauan," katanya.

Dirinya mengatakan sistem monitoring gunung berapi jarak jauh tersebut dikembangkan mahasiswa Fakultas Teknik UAD Yogyakarta angkatan 2007, atau semester lima.

"Wilayah Indonesia banyak terdapat gunung berapi yang masih aktif, dan kami berharap sumbangsih pemikiran ini dapat dikembangkan oleh pemerintah melalui instansi terkait agar dapat mengurangi kemungkinan jatuhnya korban akibat aktivitas gunung berapi, khususnya yang disebabkan perubahan suhu seperti yang terjadi di Gunung Merapi di perbatasan wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, dengan adanya awan panas, sehingga mengakibatkan jatuh korban puluhan orang," katanya.

Menurutnya, hal tersebut dapat dihindari apabila keberadaan abu vulkanik dan awan panas yang biasa disebut "wedus gembel" itu kedatangannya dapat terdeteksi lebih dini. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita