Minggu, 27 Mei 2012
BPS Babel: Pengangguran Terbuka Turun Menjadi 4,24%
Senin, 25 Oktober 2010 08:53
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 25/10 (SIGAP) - Badan Pusat Statistik Provinsi Bangka Belitung mencatat tingkat pengangguran terbuka pada 2010 mengalami penurunan 4,24% jika dibandingkan 2008 sebanyak 5,79% seiring turunnya jumlah penduduk miskin di daerah tersebut.

Kepala Seksi Integrasi Pengolahan Data pada BPS Babel, Siti Fitriningsih di Pangkalpinang, Senin (25/ menjelaskan, berdasar sensus penduduk pada Mei 2010,  jumlah penduduk Babel sebanyak 1.223.048 jiwa dan mengalami peningkatan cukup tinggi jika dibandingkan pertumbuhan penduduk di provinsi lainnya.

"Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, tingkat pengangguran dan jumlah penduduk miskin mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya," ujarnya.

Dirinya menjelaskan, tingkat pengangguran terbuka pada 2008 sebanyak 5,79% jika dibandingkan 2009 turun menjadi 4,82% dan pada 2010 kembali mengalami penurunan sebesar 4,24%.

Demikian juga, jumlah penduduk miskin terhitung 2006 hingga 2010 mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin pada 2006 sebanyak 111.400 jiwa turun menjadi 95.100 jiwa pada 2007.

Jumlah penduduk miskin pada 2008 sebanyak 86.790 jiwa turun menjadi 76.630 jiwa dan pada 2010 turun menjadi 67.750 jiwa.

Sementara itu, indeks pembangunan manusia (IPM) di Bangka Belitung mengalami kenaikan, dari 71,18 pada 2006 meningkat menjadi 71,62 pada 2007, 72,19 pada 2008 dan kembali meningkat pada 2009 menjadi 72,55 (angka sementara).

"Sensus penduduk 2010 telah dilaksanakan dengan baik dan saat ini telah sampai tahap akhir pengolahan data rinci penduduk.

Diharapkan nantinya akan menghasilkan data penduduk yang bermanfaat bagi pemerintah, penyelenggara pemilihan umum (KPU), akademisi dan para pemerhati sosial kependudukan dalam meningkatkan pembangunan daerah," ujarnya.

Berdasarkan catatan SIGAP, sedikitnya 8,6 juta lulusan pendidikan di Indonesia dari 116,8 juta angkatan kerja belum terserap dunia kerja dan menjadi angkatan pengangguran terbuka.

Kementerian Pendidikan Nasional menilai perlu link and match atau penyelarasan antara kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi yang dimiliki oleh para lulusan pendidikan di Indonesia.

“Masalahnya, itu karena rendahnya kompentensi kualifikasi lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha,” kata Direktur Kursus Ditjen Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Wartanto, Ju,’at (15/10).

Menurutnya, angka pengangguran yang tinggi juga disebabkan antara lain oleh tingkat produktifitas kerja yang rendah, kesenjangan upah antar pekerja relatif besar, kenaikan upah belum diikuti dengan peningkatan produktifitas, serta kesenjangan partisipasi kerja antara wanita dan pria yang cukup tinggi.

“Kajian mengenai konsep penyelarasan yang selama ini dilakukan oleh Kemendiknas baru menjawab permasalahan secara parsial. Dari konsep tersebut diisyaratkan adanya kebutuhan kordinasi yang baik antara pihak penyedia lulusan pendidikan (supply driven) dengan pihak yang membutuhkan tenaga lulusan (demand driven)."

Untuk itu, lanjutnya, diperlukan reingeneering sistem pendidikan pada setiap level dan bidang dalam menyediakan lulusan atau SDM sesuai kebutuhan dunia kerja.

Tak hanya itu, tambah Wartanto, dibutuhkan peramalan kebutuhan akan sektor-sektor kerja agar kualifikasi para lulusan bisa tepat sasaran dengan kebutuhan pasar.

"Kebanyakan yang terjadi saat ini adalah lulusan misalkan lulusan SMK tata boga bekerja di lahan pekerjaan tekstil,” ungkapnya.

Solusi dari permasalahan tersebut adalah perlunya kordinasi antara Kemendiknas dan kementerian lain yang memiliki fungsi pendidikan dengan dunia kerja. Tak hanya itu, tegas dia, perlu juga dilakukan penyelarasan kurikulum berbasis kewirausahaan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. (laporan rusman/ant)



 

Arsip Berita