Minggu, 27 Mei 2012
Boyolali: Warga Diingatkan Akan Bahaya Merapi
Rabu, 20 Oktober 2010 07:04
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 20/10 (SIGAP) - Koordinator Relawan Merapi, Luwarno, mengingatkan warga lereng gunung di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, agar sadar dan tanggap terhadap bahaya letusan Gunung Merapi.

Luwarno di pos pengamatan di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali, Selasa (19/10) mengatakan warga di lereng Merapi selama ini masih banyak memercayai mitos yang berkembang di lingkungan mereka. Padahal, katanya, Gunung Merapi jika mengeluarkan lava pijar akan membahayakan jiwa warga tiga desa tersebut.

Menurutnya, warga harus tahu bahaya yang dimunculkan akibat letusan Merapi karena di puncak ada kubah lava kumpulan erupsi tahun 2006 sekitar dua juta meter kubik.

"Jika kumpulan kubah lava di puncak Merapi turun ke bawah dapat menghabiskan tiga desa itu," katanya.

Oleh karena itu, warga harus mengikuti dan waspada terhadap kondisi status Merapi melalui informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta yang terus memantau perkembangan salah satu gunung berapi teraktif di dunia.

Menurut Luwarno, bencana alam gunung meletus tidak dapat diprediksi larinya lava pijar sehingga warga Boyolali yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) harus tetap waspada.

"Hal itu, seperti kejadian Merapi, pada tahun 1954, Dukuh Pencah, Desa Klakah, Selo, banyak korban dan sebagian yang selamat pindah ke Tlogolele akibat guguran lava pijar Merapi," kata Luwarno, yang mantan Camat Selo.

Menurutnya, warga menggunakan petunjuk fenomena alam seperti turunnya sejumlah binatang dari puncak Merapi, itu lebih baik daripada percaya mitos, hingga mereka tidak mau dievakuasi.

"Ada warga setelah melakukan tumpengan nasi jagung, mereka percaya bisa selamat dari bencana Merapi. Warga segera tinggalkan mitos itu," katanya.

Luwarno menjelaskan, pihaknya juga mengikuti perkembangan Merapi melalui informasi BPPTK, bahwa kegempaan terus terjadi. Selain itu, yang perlu diwaspadai masyarakat adalah adanya pembengkakan material yang hampir merata di puncak.

Kondisi tersebut, katanya, mengindikasikan letusan Merapi diprediksi lebih dahsyat dibanding 2006. Karena, letusan 2006 tidak mengalami pembengkakan hingga melingkar di puncak Merapi.

Menurutnya, pembengkakan tersebut berpotensi menyebabkan letusannya dapat ke wilayah utara. "Ini berbeda pada tahun 2006 yang letusannya hanya mengarah ke selatan atau Sleman dan Klaten," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya terus mengintensifkan penyuluhan ke daerah-daerah pelosok, untuk memberikan pengertian kepada warga bahwa ancaman letusan Merapi diprediksi lebih berbahaya dibanding 2006.

Sementara, Sutras (55) warga Dusun Belangm Desa Tlogolele, Selo menjelaskan, warga beberapa hari ini, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari sering melihat Merapi mengeluarkan lahar panas.

Namun, kata Sutras, lahar panas itu seperti kembang api meluncurke arah sungai Kali Gendol Sleman.

"Kondisi warga di Dusun Belang ini masih aman dan beraktivitas seperti biasa karena Merapi statusnya masih waspada," kata Sutras.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menyediakan 5.000 masker yang akan dibagikan kepada masyarakat untuk mengantisipasi jika terjadi bencana letusan Gunung Merapi.

"Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, sudah menyediakan 5.000 masker bagi masyarakat terdampak," kata Kepala Dinkes Boyolali, Yulianto Prabowo, di Boyolali, Selasa (19/10).

Menurut Yulianto, Dinkes saat ini melakukan sosialisasi dampak yang diakibatkan debu vulkanik terhadap kesehatan, khususnya pernafasan.

Dinkes juga sudah menyiapkan sekitar 5.000 buah masker, tetapi pihaknya untuk distribusinya masih menunggu saat yang tepat.

Pembagian masker tersebut, kata dia, dilakukan pihaknya dengan memperhitungkan kebutuhan warga dan disesuaikan dengan tingkat kerawanan risiko bencana dirasakan masyarakat terdampak.

Mengenai sosialisasi terkait dampak debu vulkanik, kata dia, akan dilakukan melalui petugas kesehatan di setiap Puskesmas atau bidan di desa terkait.

"Kami sudah mulai sosialiasasi, sejak sepekan terakhir ini," kata Yulianto.

Kendati demikian, pihaknya mengimbau warga tetap waspada, meskipun wilayah Boyolali untuk beberapa bencana letusan Gunung Merapi terakhir ini, tidak terdampak langsung erupsi.

Bahkan, Merapi saat ini arah guguran maupun asapnya masih mengarah ke selatan dan barat daya.

Namun, katanya, untuk wilayah Boyolali tetap tidak terhindarkan dari terjangan debu vulkanik jika terjadi letusan seaktu-waktu.

"Kami imbau warga tidak menghirup debu secara langsung, maka dengan menggunakan kain atau masker," katanya.

Namun, lanjutnya, untuk pelindung mata dapat menggunakan kacamata.

Selain itu, jika terjadi bencana tersebut, penduduk kawasan bencana diminta untuk berlindung di dalam rumah dengan pintu tertutup.

"Sehingga, warga diharapkan dapat mengurangi debu vulkanik yang masuk rumah," katanya.

Sementara dalam rapat koordinasi tingkat Muspida Boyolali, terkait penanggulangan bencana Merapi, Pemkab telah menyediakan logistik, perlengkapan sarana prasarana di masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolimas) Boyolali Sumantri mengatakan, persiapan tersebut dapat diketahui saat simulasi yang akan digelar di Kecamatan Selo, pada Jumat (22/10). (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita