Minggu, 27 Mei 2012
Baubau: Walikota Ingatkan Peran Strategis Kotanya Di Nusantara
Senin, 18 Oktober 2010 09:12
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 18/10 (SIGAP) - Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang merupakan pusat pemerintahan sejak zaman kesultanan Buton pada abad ke-6 telah berperan strategis di wilayah nusantara.

"Sejak masa kesultanan mulai tahun 1541 Masehi, Kota Baubau memiliki peran yang strategis karena daerah ini dikenal sebagai kota transit dan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di nusantara," kata Wali Kota Baubau, Mz Amirul Tamim di Baubau, Senin (18/10).

Amirul mengatakan, sejak masa kesultanan yang pertama, Sultan Murhum, hingga kini berusia 469 tahun, Kota Baubau terus mengalami perubahan dari masa ke masa, baik aspek sosial ekonomi maupun infrastruktur pembangunan.

"Pada zaman Sultan Murhum, pusat pertumbuhan ekonomi berada dalam kawasan Benteng Keraton Wolio, namun seiring dengan perkembangan zaman, maka lama kelamaan kawasan pertumbuhan ekonomi berpindah di kawasan pelabuhan laut saat ini," tambahnya.

Oleh karena itu, kata Amirul, pada peringatan HUT Kota Baubau ke-469 ini merupakan wujud syukur dan wahana intropeksi diri serta sebagai momen pembaharu komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi daerah pemekaran dari Kabupaten Buton tahun 2001 itu.

"Perjalanan panjang Kota Baubau selama ini tidak hanya ditetapkan melalui undang-undang semata, melainkan proses perjalanannya yang cukup panjang terhadap sejarah berdirinya negeri ini," katanya.

Dirinya menambahkan, sejak terbentuk Kota Baubau beberapa kali menuai sukses dalam berbagai segi pembangunan dan selalu tampil sebagai yang terbaik di antara daerah-daerah di Indonesia.

"Yang teranyar saat ini adalah Kota Baubau masuk nominasi 14 besar dalam bidang ke-PU-an dari beberapa kabupaten dan kota yang ada di Indonesia," ujarnya.

Memasuki usia kota yang beranjak dewasa setelah memperoleh status kotanya pada tahun 2001 silam, permukiman dan kependudukan memang telah menjadi  hal yang mendesak di Kota Bau-Bau.

Meskipun kota ini dikelilingi benteng terluas di dunia, namun posisinya adalah wilayah simpul (connecting area) dan hinterland Kawasan Barat - Timur Indonesia.  

Tak heran sejak dulu kota yang memiliki Pelabuhan Batulo ini telah menjadi incaran meeting point para pedagang untuk bertemu. Tercatat selama 10 tahun ini, laju pertambahan penduduk  di  Bau-Bau mencapai 3,23%.  Dan angka ini akan terus melaju pesat, karena terpicu oleh eksodus Ambon dan Ternate.

Namun sayangnya, di kota yang pernah menjadi tempat Konferensi Internasional Bahasa-Bahasa di dunia ini, pada tahun 2009 tercatat masih 40% dari total penduduknya terdapat 79.416 jiwa penduduk miskin dengan 52.044 jiwa termasuk didalamnya keluarga berkategori pra-sejahtera.

Dan, kurang lebih 1.500 KK warga Bau Bau menempati kawasan kumuh yang tersebar di di Kecamatan Murhum (Kelurahan Lanto, Nganganaumala, Wameo, Tarafu dan Bone-Bone) serta Kecamatan Wolio (Kelurahan Bataraguru, Tomba dan Wale) seperti dilansir situs nussp.or.id. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita