Minggu, 27 Mei 2012
Bengkulu Masih Tinggi Risiko Malaria
Senin, 18 Oktober 2010 08:41
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 18/10 (SIGAP) - Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu drg Mixon Sahbuddin mengatakan, wilayah Bengkulu masih tinggi risiko terhadap penyakit malaria sehingga perlu keseriusan untuk mengatasi penyebaran penyakit tersebut.

"Pengidap penyakit malaria di daerah ini makin meningkat, selama semester I tahun ini penderita malaria klinis mencapai 3.566 orang," katanya di Bengkulu, Senin (18/10).

Mixon Sahbuddin mengatakan, jumlah penderita kian meningkat selama 3 bulan terakhir hingga mencapai 4.088 orang, sehingga jumlah penderita malaria klinis di Kota Bengkulu selama tahun ini mencapai 7.654 orang.

Untuk mencegah berkembangnya penyakit yang ditularkan nyamuk tersebut, katanya, masyarakat perlu meningkatkan pola hidup sehat dan bersih.

Karena, lanjutnya, upaya melakukan dengan pengasapan atau "fogging" itu hanya mematikan nyamuk dewasa, sehingga langkah tersebut kurang efektif serta menelan anggaran yang besar.

Kebutuhan biaya "fogging" itu untuk seluruh wilayah Kota Bengkulu dalam kegiatan selama setahun mencapai Rp15 miliar, sementara masih ada upaya lain yang lebih efektif dengan membudayakan hidup sehat dan lingkungan yang bersih, katanya.

Pemerintah Kota Bengkulu mengimbau masyarakat untuk membudayakan pola hidup sehat dengan membersihkan lingkungan untuk menghindari dari sebaran penyakit musim hujan.

"Kita meminta masyarakat lebih memperhatikan lingkungan saat musim hujan dengan sanitasi sehingga dapat menekan perkembangbiakan nyamuk penyebab penyakit malaria," kata Kadinkes.

Menurutnya, tingginya intensitas curah hujan nyamuk penyebar penyakit itu dengan mudah berkembang, untuk mengurangi perlu kebersihan lingkungan yang perlu dibudayakan sehingga menjadikan pola hidup sehat.

Seperti diketahui, penyakit malaria yang disebabkan oleh gigitan nyamuk akan berkurang apabila masyarakat memahami akan kebersihan lingkungan sehingga tidak ada celah nyamuk bersarang atau berkembangbiak, langkah itu mengurangi sebaran penyakit yang menyerang kesehatan manusia.

Secara epidemiologi, kata Mixon Sahbuddin , penyakit malaria dapat menyerang orang baik laki-laki maupun perempuan, pada semua golongan umur, dari bayi sampai orang dewasa.

Penyakit malaria, lanjutnya adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (plasmodium) yang ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles), sehingga kita harus menjaga kebersihan lingkungan untuk mengantisipasi penyebaran nyamuk itu.

"Malaria sendiri memiliki dua gejala, yang diantaranya gejala ringan dan gejala malaria berat," ujarnya.

Masyarakat dapat mengetahui gejala malaria ringan diantaranya demam menggigil secara berkala dan biasanya disertai sakit kepala, pucat karena kurang darah, kadang-kadang di mulai dengan badan terasa lemah, mual/muntah tidak nafsu makan, serta gejala spesifik daerah, seperti diare pada anak.

Sedangkan, untuk gejala malaria berat di antaranya kejang-kejang, kehilangan kesadaran, mata berubah warna kuning, panas tinggi, kencing berwarna teh tua, nafas cepat, muntah terus, dan pingsan hingga koma.

"Apabila nyamuk Anopheles mengigit orang yang sakit malaria, maka parasit akan ikut terhisap bersama darah penderita sehingga parasit tersebut akan tumbuh dan berkembang biak dalam tubuh nyamuk," terangnya.

Sesudah 7-14 hari apabila nyamuk tersebut mengigit orang sehat, ujar dia lagi, maka parasit tersebut akan ditularkan ke orang tersebut, sehingga di dalam tubuh manusia parasit akan berkembang biak, menyerang sel-sel darah merah dan dalam waktu kurang lebih 12 hari, orang tersebut akan sakit malaria. (laporan ari prahasta/ant)

 

Arsip Berita