Minggu, 27 Mei 2012
Denpasar: Penularan HIV, AIDS Pada Ibu Hamil Meningkat
Sabtu, 16 Oktober 2010 11:19
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 16/10 (SIGAP) - Pihak Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Denpasar menyatakan, jumlah kasus penularan HIV dan AIDS yang terjadi dari ibu hamil kepada anaknya pada tahun ini mengalami peningkatan dari 2009.

"Berdasarkan data yang kami peroleh, kasus penularan HIV dan AIDS yang terjadi dari ibu hamil kepada anaknya pada 2010 meningkat dari 2009," kata Sri Mulyanti, asisten koordinator KPA Denpasar, di Denpasar, Sabtu (16/10).

Dikatakan, jumlah kasus tersebut sampai Juni 2010 sebanyak 81. Sedangkan kasus yang terjadi selama 2009 hanya sebanyak 66 kasus.

Diperkirakan jumlah kasus tersebut bisa terus meningkat jika tidak segera dilakukan pencegahan. Karena itu diharapkan para ibu hamil yang beresiko untuk memeriksakan dirinya.

"Salah satu bentuk pencegahan itu adalah para ibu hamil yang sekira beresiko segera melakukan pemeriksaan HIV. Cara mendatangi rumah sakit yang menyediakan layanan pemeriksaan `Voluntary Counseling and Testing` (VCT)," ujarnya.

Sebab, katanya, dari jumlah kasus yang terjadi, banyak ibu hamil yang positif HIV tidak menyadari kondisinya. Akibat ketidaktahuan tersebut membuat semuanya terlambat, yang akhirnya membuat anak yang dikandungnya tertular HIV dan AIDS.

Dijelaskan, dengan mengetahui kondisi sejak dini maka penularan HIV dan AIDS terhadap bayi yang dikandung oleh ibu hamil yang dinyatakan positif HIV, bisa dicegah. Salah satu caranya adalah melahirkan melalui operasi sesar.

"Cara melahirkan dengan operasi sesar adalah salah satu cara guna mengurangi penularan virus HIV dari ibu hamil ke anaknya," ujarnya.

Cara tersebut, lanjutnya, cukup efektif dengan hasil sekitar 30% mengurangi penularan HIV pada ibu hamil.

Selain cara operasi sesar, sebelum melahirkan ibu hamil harus melakukan terapi ARV. Terapi tersebut harus dilakukan secara rutin.

"Semua cara pencegahan tersebut adalah merupakan bagian dari program `preventive mother to child transmission` (PMTCT)," katanya.

Sementara itu Komisi Penanggulangan AIDS, PALANG Merah Indonesia Cabang Jakarta Timur mengantisipasi kasus penyebaran virus HIV/AIDS dengan cara pencegahan, dukungan dan perawatan, serta anti stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Humas PMI Jakarta Timur dan Program Manager HIV dan AIDS, Eki Komalasari, di Jakarta beberapa waktu lalu PMI Jakarta Timur turut mencegah penularan HIV/AIDS dengan menyediakan pusat informasi konseling, ‘hotline’,penjangkauan kalangan remaja, sosialisasi, membagikan kondom kepada PSK dan waria di sekitar wilayah yang rawan berisiko.

Dirinya menjelaskan, wilayah Jakarta Timur yang rawan berisiko penularan HIV/AIDS antara lain wilayah Prumpung, Bidara Cina, Pulo Gadung, Cakung, Pulo Gebang, Jatinegara, Cawang, Rawa Kuning,dan lain-lain.

Wilayah tersebut menjadi rawan berisiko, terutama bagi kalangan remaja, dikarenakan di wilayah tersebut terdapat tempat prostitusi, kos-kosan liar yang menjadi tempat atau sarang penularan HIV/AIDS.Untuk itu, PMI Jakarta Timur melakukan pencegahan di wilayah tersebut agar kalangan remaja tidak terpengaruh dan tertular HIV/AIDS.

Selain itu, PMI Jakarta Timur meyakinkan semua orang untuk tidak terkena HIV/AIDS, menjauhkan narkoba dan seks bebas, menanggulanginya, serta membantu dan memotivasi para korban yang terkena HIV/AIDS sehingga mereka tetap diakui sebagai manusia.

Sementara itu, jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia berdasarkan data Ditjen Pengendalian Pengembangan Masyarakat dan Pengendalian Lingkungan Departemen Kesehatan RI dari tanggal 1 April 1987 hingga Juni 2010 mencapai 21.770 kasus dan 4.128 kematian.

Jumlah kasus HIV/AIDS pada golongan usia yang paling besar adalah remaja atau usia 20–29 tahun. Untuk itu, PMI Jakarta Timur berusaha menekan angka pada kalangan remaja yang sangat mudah terpengaruh dan masih labil,” ujarnya seperti yang dilansir aidsindonesia.or.id.

Eki berharap, masyarakat di Jakarta Timur khususnya kalangan remaja tidak terpengaruh dengan mencoba jarum suntik, narkoba, dan seks bebas karena bisa menyebabkan penyakit HIV/AIDS yang berdampak negatif bagi mereka. (rusman/ant)


 

Arsip Berita