Minggu, 27 Mei 2012
Medan: Ekspor CPO Capai 2,218 Miliar Dolar AS
Sabtu, 16 Oktober 2010 10:24
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 16/10 (SIGAP) - Devisa lemak dan minyak hewan/nabati Sumut hingga Agustus naik 25,58 persen atau menjadi 2,218 miliar dolar AS ditengah naiknya terus harga ekspor minyak sawit mentah yang terus menguat hingga 1.000 dolar AS.

"Pada Agustus 2010 itu, devisa dari produk itu naik 71,02 persen dari 315,009 dolar AS di Juli,?kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Alimuddin Sidabalok, di Medan, Sabtu (16/10).

Ekspor minyak sawit itu terbesar ke India dan China.

Devisa itu diduga akan semakin besar karena harga ekspor bertahan mahal atau bahkan bisa naik lagi.

Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Laksamana Adiyaksa, mengakui, harga ekspor CPO itu tren meningkat.

Kamis lalu, misalnya, harga CPO di bursa Rotterdam sudah mencapai 1.000 dolar AS per metrik ton atau naik 5 dolar AS per metrik ton dari harga sebelumnya 995 dolar AS per metrik ton.

Harga yang menguat itu dipicu permintaan yang tinggi ditengah produksi yang mengetat.

Harga ekspor yang naik itu semakin menggembirakan karena nilai tukar juga cukup bagus dimana satu dolar AS sebesar Rp8.950.

Harga diprediks bertahan menguat dan kalau-pun tertekan akan berada di kisaran 850 dolar AS -900 an dolar AS per metrik ton, katanya.

Sementara itu, Pemerintah akan membatasi ekspor minyak sawit mentah crude palm oil (CPO) dan sebaliknya mengalihkan CPO dalam negeri untuk industri hilir CPO di Indonesia.

Menteri Perindustrian (Menperin) RI, MS Hidayat menuturkan, pemerintah akan memberikan insentif dan disinsentif untuk memfasilitasi pembentukan kawasan industri CPO.

”Untuk mendukung industri hilir CPO, pemerintah menargetkan ekspor CPO hanya 50 persen pada 2015 dan 30 persen pada 2020,” kata Hidayat seperti dilnasir vivanews.com, Senin (8/2/2010) di Jakarta. saat ini menurutnya produksi CPO dalam negeri diprediksi akan berlipatganda menjadi 40 juta ton pada 2020 dari produksi saat ini yang hampir 20 juta ton.

Sehingga, dirinya bermimpi, menginjak tahun 2015, Indonesia akan masuk industri nilai tambah bagi CPO. ”Saat ini, sedang dirinci bersama Menteri Keuangan, insentif dan disinsentif apa yang akan diberikan. Tetapi yang jelas, bentuknya insentif fiskal. Kalau produsen CPO support, industri hilir dalam negeri akan ada keringanan pajak,” ujarnya.

Dikatakannya bersama Kementerian Pertanian sedang menyusun skim pembiayaan, termasuk memberi subsidi dan bunga murah. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita