Sabtu, 26 Mei 2012
GHI: Gizi Buruk Indonesia, Serius
Kamis, 14 Oktober 2010 06:54
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/10 (SIGAP) - Global Hunger Index (GHI), sebuah pemeringkatan kelaparan dan gizi buruk di dunia, memasukkan Indonesia dalam kategori ‘serius’. Berada di bawah level 'mengkhawatirkan' dan 'sangat mengkhawatirkan'.

Seperti dilansir BBCnews, GHI membuat lima kategori untuk negara yang masih mengalami masalah kelaparan dan gizi buruk. Mulai dari yang terjelek yakni 'sangat mengkhawatirkan', 'mengkhawatirkan', 'serius', 'moderat' dan 'rendah'.

Disebutkan GHI, kelaparan dan gizi buruk masih menjadi ancaman buat 1 miliar penduduk dunia. Negara-negara di Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan tercatat memiliki tingkat kelaparan tertinggi, namun Asia Selatan telah membuat banyak kemajuan lebih sejak tahun 1990.

Menurut GHI, di Asia Selatan, status gizi rendah, pendidikan dan sosial perempuan adalah salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian tingginya gizi buruk pada anak dan balita.

Sebaliknya di Sub-Sahara Afrika, efektivitas pemerintah yang rendah, konflik, ketidakstabilan politik dan tingginya tingkat HIV dan AIDS merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kematian anak dan proporsi dari gizi buruk.

Dalam catatan GHI pada 2010, diketahui bahwa 122 negara masih dalam tahap berkembang dan transisi, serta terdapat 29 negara masih memiliki tingkat kelaparan yang 'sangat mengkhawatirkan' dan 'mengkhawatirkan', antara lain Burundi, Chad, Republik Demokratik Kongo dan Eritrea (di Sub-Sahara Afrika).

Sebagian besar negara-negara dengan skor GHI 'mengkhawatirkan' berada di Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Skor GHI terparah terlihat di Republik Demokratik Kongo, terutama karena konflik dan ketidakstabilan politik.

Dari data GHI tahun 2010 tersebut, Indonesia sendiri berada pada level 'serius', yaitu satu tingkat di bawah level 'mengkhawatirkan'.

GHI tahun 2010 menunjukkan bahwa gizi buruk anak adalah penyebab terbesar kelaparan di seluruh dunia, yaitu menyumbang hampir setengah dari semua kasus kelaparan yang ada.

Marie Ruel, direktur IFPRI (International Food Policy Research Institute) divisi Kemiskinan, Kesehatan dan Gizi, Organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) mengatakan, negara-negara tersebut harus memerangi kekurangan gizi anak untuk mengurangi kelaparan global. “Banyak negara yang harus mempercepat kemajuan dalam mengurangi kekurangan gizi anak,” ungkapnya.

FAO mengategorikan kelaparan,  kepada orang-orang yang mengonsumsi kurang dari 1.800 kilokalori per hari. Angka tersebut adalah jumlah minimum yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif.

Meskipun persentase berat badan pada anak di bawah usia 5 tahun hanya salah satu dari tiga unsur dalam GHI, tetapi hal itu menyumbang hampir setengah dari nilai dunia GHI.

Gizi anak-anak tidak tersebar merata di seluruh dunia, tetapi terkonsentrasi di beberapa negara dan wilayah. Lebih dari 90% anak-anak di dunia kerdil (anak-anak dengan tinggi rendah untuk usianya) tinggal di Afrika dan Asia, yang mana tingkat pengerdilan adalah 40% dan 36%. (wa prasetya)

 

Arsip Berita