Sabtu, 26 Mei 2012
Bengkulu: 23% Penduduk Kabupaten Rejang Lebong Miskin
Kamis, 14 Oktober 2010 06:28
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/10 (SIGAP) - Angka kemiskinan penduduk di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu pada 2009 mencapai 23% dari jumlah penduduk sebanyak sekitar 243.000 jiwa.

Sekretaris Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kabupaten Rejang Lebong Supriyono, Bengkulu, Rabu (13/10) mengatakan, penduduk miskin di daerah ini pada 2009 sebanyak 19.808 KK atau sebesar 23% dari 38.617 kepala keluarga, jumlah tersebut mengalami penurunan dibanding pada 2008 yang sebesar 27.027 kepala keluarga.

Dirinya mengatakan, angka kemiskinan di daerah ini akan mengalami penurunan pada 2010 karena taraf hidup masyarakat kian membaik, seiring berkembangnya sektor pertanian dan perkebunan di daerah tersebut.

Upaya mengurangi angka kemiskinan telah dilakukan pemerintah daerah dengan menggerakkan perekonomian masyarakat perdesaan, melalui sektor pertanian, perkebunan dan ekonomi kerakyatan.

Daerah ini berpotensi besar dalam usaha pertanian dan perkebunan serta usaha peternakan, beberapa sektor tersebut telah digalakkan sejak beberapa tahun ini dengan memberikan kemudahan mendapat sarana usaha tersebut.

"Selain itu pemerintah daerah melakukan peningkatan kesehatan lingkungan dan ekonomi keluarga dengan program bedah kampung pada tahun lalu," ujarnya.

Dirinya menyebutkan, penduduk Rejang Lebong yang termasuk keluarga prasejahtera sebanyak 5.935 KK, KS I sebanyak 13.873, KS II mencapai 2.153, serta KS III sebanyak 16.656 KK.

Pada 2010 belum dapat dipastikan berapa jumlahnya, karena data masih diolah. Namun dirinya menyakini angka kemiskinan akan mengalami penurunan cukup signifikan.

Menurutnya, salah satu faktor terjadinya kemiskinan di beberapa daerah di Bengkulu, karena masih tingginya pernikahan dini, sehingga kebutuhan keluarga itu bergantung kepada orang tua.

Supriyono mengharapkan masyarakat menyadari risiko pernikahan pada usia yang belum matang itu.

Terkait dengan hal ini, pemerintah melalui Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian, Hatta Radjasa, kepada wartawan, Senin (11/10), di Jakarta mengatakan angka kemiskinan di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, telah mengalami penurunan.

Pemerintah semakin merasa percaya diri, terutama setelah klaim tersebut juga diperkuat saat menghadiri pertemuan organisasi negara-negara Islam (OKI) belum lama ini di Turki.

"Ini yang bicara bukan saya, tapi namanya Profesor Hans, saat pertemuan di Turki. Dipaparkannya, bahwa Indonesia dianggap sebagai model negara yang sukses menurunkan angka kemiskinan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir," kata Hatta Radjasa seperti dikutip jpnn.com.

Program-program nyata yang dianggap dunia internasional sukses dilakukan Indonesia, kata Hatta pula, antara lain misalnya penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program sosial lainnya. Selain itu, Indonesia juga dianggap sebagai negara yang sukses dalam swasembada beras dan sektor pertanian lainnya.

"Jadi, ada potensi Indonesia akan dijadikan negara percontohan untuk penurunan kemiskinan dan program pertanian. Selain itu, sudah ada beberapa target investasi yang diterapkan bagi kedua negara (Indonesia-Turki). Hingga tahun 2014, target perdagangan kedua negara (adalah) USD 5 miliar. Sekarang sudah mencapai USD 2 miliar," kata Hatta pula.

Sementara itu, meski pemerintah mengklaim angka kemiskinan sudah turun, namun besarnya angka kemiskinan di Indonesia sendiri sebenarnya masih cukup tinggi. Berdasarkan data sensus penduduk 2010 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat bahwa angka kemiskinan mencapai 13,3 persen, atau sekitar 31,02 juta dari 237,6 juta penduduk Indonesia.

Sementara bila melihat dari program pengentasan kemiskinan, penerima bantuan miskin seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bahkan dilaporkan mencapai 76,4 juta orang, atau dua kali lipat dari jumlah penduduk miskin yang dilaporkan BPS. (rusman/ant)

 

Arsip Berita