Sabtu, 26 Mei 2012
Malang: Anomali Cuaca Tidak Pengaruhi Masa Panen Sayuran
Kamis, 14 Oktober 2010 03:08
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/10 (SIGAP) - Keadaan cuaca yang tidak menentu di sejumlah kawasan Malang Raya, ternyata tidak memengaruhi masa panen sejumlah komoditas sayuran di kawasan tersebut.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Sub Terminal Agrobisnis Mantung, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Totok Purwanto, Rabu (13/10) mengatakan, meski kondisi cuaca tidak menentu, produksi sayuran di Kabupaten Malang meningkat, terbukti komoditas sayuran yang masuk ke Terminal Agrobisnis Mantung sangat melimpah.

"Anomali cuaca tak memengaruhi masa panen petani, sehingga stok sayuran di Terminal Agrobisnis Mantung sangat melimpah," katanya.

Selain itu, Totok menambahkan, harga sejumlah komoditas sayuran juga mengalami peningkatan, namun juga ada sejumlah sayuran yang merosot.

Dirinya mencontohkan harga tomat yang dalam minggu ini mengalami peningkatan dari Rp7.000 menjadi Rp12 ribu perkilogram, sementara sawi putih juga meningkat dari Rp500 menjadi Rp1.000.

Sedangkan untuk harga cabai juga mengalami peningkatan. Totok menyebutkan, harga cabai dalam masa panen ini mengalami kenaikan seribu rupiah.

Dirinya menjelaskan, harga cabai saat ini mencapai Rp24 ribu dari awalnya Rp20 ribu perkilogramnya, kenaikan ini disebabkan banyak permintaan pasar terhadap cabai.

Meski demikian, pemintaan tersebut masih bisa dipenuhi oleh sejumlah petani cabai, sebab kondisi pertanian sayuran saat ini sedang mengalami panen.

"Saat ini, sejumlah sayuran sedang memasuki masa panen, meski demikian ada harga sayuran yang terkena imbas panen dan harganya merosot, seperti kubis dan wortel, namun ada juga yang tambah naik seperti tomat dan cabai," tuturnya.

Dikatakan Totok, untuk harga sayuran yang anjlok atau turun akibat anomali cuaca adalah sayur kubis, yang merosot dari Rp5.000 menjadi Rp500/kg.

"Ini karena kualitas kubis yang disetor petani di Terminal Agrobisnis Mantung kurang bagus, sebab tanaman kubis adalah jenis tanaman yang tidak kuat terhadap anomali cuaca," paparnya.

Sementara itu, lahan pertanian di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta banyak yang mengalami kerusakan atau dianggap gagal panen akibat anomali cuaca. Diperkirakan, lahan pertanian seluas 446 hektare menjadi korban cuaca yang tidak menentu yang terjadi beberapa pekan lalu.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul, Edy Suhariyanta di Bantul, Rabu (13/10), seperti yang dilansir republika.co.id mencatat kerusakan atau gagal panen pada tanaman bawang merah seluas 60 hektare, kacang tanah seluas 110 hektare, kemudian kedelai seluas 30 hektare, tembakau seluas 92 hektare kemudian jagung 154 hektare.
"Tanaman rusak akibat terkena guyuran air hujan terus-menerus yang menggenangi tanaman sehingga tanah menjadi jenuh air dan menyebabkan daun menguning bahkan membusuk, biji yang dihasilkan kisut," katanya.

Menurutnya, kerusakan yang terjadi pada berbagai jenis tanaman tersebut memang tidak terjadi pada seluruh luas tanaman yang ditanam pada musim tanam waktu itu, melainkan hanya sisa dari seluruh tanaman yang belum dipanen.

Dirinya mengatakan, seperti tanaman tembakau dari total seluas 460 hektare seluas 92 hektare gagal panen, kemudian bawang merah dari total seluas 640 hektare seluas 60 hektare gagal panen. Sedangkan jagung gagal panen seluas 154 hektare dari tanaman 900 hektare.

"Semua lahan pertanian yang mengalami kerusakan atau gagal panen tersebut berada pada dataran rendah maupun daerah hilir, sedangkan pada dataran tinggi dampak kerusakan tidak seberapa," katanya.

Edy mengatakan, dalam agribisnis pertanian faktor cuaca memang sangat mempengaruhi perkembangan kualitas dan produktivitas tanaman dan para petani memang tidak dapat berbuat banyak. (rusman/ant)

 

Arsip Berita