Sabtu, 26 Mei 2012
SKP BSB: 7 Provinsi Prioritas Mitigasi Gempa Dan Tsunami
Rabu, 13 Oktober 2010 04:41
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 13/10 (SIGAP) - Staf Khusus Presiden RI bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), Andi Arief mengatakan, tujuh provinsi di Indonesia menjadi prioritas pelaksanaan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.

"Dari hasil kunjungan dan kajian para ahli ada tujuh wilayah yang menjadi prioritas dalam mitigasi, tersebar di Pulau Sumatra dan Pulau Jawa," kata Andi Arief di Padang, usai memberikan materi dalam rapat koordinasi kebencanaan di Auditorium Gubernuran di Padang, Selasa (12/10).

Pada kesempatan itu, juga tampil ahli Seismik dan Geofisika, Wahyu Triyoso dan ahli tsunami dari Fakultas Kebumian ITB, Hamzah Latief dan ahli geologi teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Danny Hilman Natawijaya.

Andi mengatakan, dari hasil kajian-kajian dan pantauan para ahli, khusus untuk mitigasi bencana gempa dan tsunami memang diarahkan ke tujuh provinsi, setidaknya terdapat 13 kabupaten/kota.

Dari tujuh provinsi itu, di antaranya di Yogyakarta, Jawa Barat dan di wilayah Sumatra, termasuk Sumatera Barat (Padang, Mentawai dan kab/kota sekitarnya).

"Prioritas terhadap tujuh provinsi itu, karena bencana gempa dan tsunami andai terjadi sangat banyak menelan korban jiwa, kerugian materi dan ekonomi," katanya.

Sedangkan potensi bencana ekologi lainnya, katanya, seperti tanah longsor, banjir bandang dan puting beliung terdapat hampir di semua 33 provinsi.

Menurut Andi, mitigasi kebencanaan penting dilakukan sebagai langkah dan titik tolak dalam manajemen bencana, sehingga bisa ditekan kerugian yang ditimbulkan.

Jadi, mitigasi perlu diberikan prabencana secara berkelanjutan, supaya masyarakat dan semua pihak mengetahui tindakan yang akan dilakukan saat bencana terjadi.

Andi menyebutkan, sejak bencana gempa dan tsunami di Aceh pada 2004 sampai 2009, APBN sudah sekitar Rp150 triliun dibebankan akibat bencana yang terjadi atau sekitar Rp30 triliun/tahunnya.

Justru itu, penting kegiatan-kegiatan mitigasi agar bisa pengurangan resiko bencana. "Kita minta dalam penanganan bencana alam yang jadi prinsip, baik BPBD provinsi maupun kabupaten/kota, harus satu komando," katanya.

Sementara itu, ahli geologi teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Danny Hilman Natawijaya mengatakan, guna mengurangi resiko atau dampak dari potensi gempa dan tsunami, perlu dilakukan studi mikrozonasi, termasuk membuat skenario gempa dan efek bahayanya terhadap manusia dan infrastruktur.

Selain itu, harus dilengkapi peta-peta tsunami dan mitigasi bencananya, serta perlu membuat sistem "early warning" lokal untuk tsunami.

Danny mengatakan, tak kalah pentingnya juga perlu membuat program prediksi gempa bumi dengan mengoptimalkan jaringan pemantauan gempa yang ada dan membentuk tim ahli untuk mengkajinya secara intensif dan terus menerus.

Kemudian, penting mengintensifkan program pendidikan masyarakat untuk kebencanaan, termasuk membuat materi-materi dan paket-paket program untuk disseminasi pengetahuan kebencanaan ke masyarakat

Selanjutnya, investigasi dan inventarisasi ketahanan bangunan-bangunan dan rumah-rumah, kemudian bisa dibuat analisis resiko kerusakan, apabila skenario gempa terjadi.

"Lakukan diskusi dan konsultasi yang terus menerus antara masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah pusat dan para ahli dalam rangka migitasi dan antisipasi bencana alam," katanya.

Pada kesempatan itu, Danny juga mengingatkan tentang potensi gempa megatran yang berada di bawah Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat perlu diwaspadai karena energinya mamang ada.

"Migitasi secara umum yang tetap harus diwaspadai adalah potensi gempa Megatran dengan pusatnya di bawah Pulau Siberut," katanya.

Terkait dengan hal tersebut,  Danny mengatakan sudah dilakukan kajian secara detail sehingga diketahui energi megatran memang ada. Menurutnya, potensinya bisa 8,9 Skala Richter (SR) tetapi kapan lepasnya, tidak tahu.

Namun, kapan terjadi waktunya terjadi tidak tahu, apakah 10 tahun, 100 tahun lagi tak bisa dipastikan terjadi. Tetapi yang diketahui dari hasil penelitian menunjukan potensinya energinya masih ada.

Bencana gempa 30 September 2009 lalu, kata Danny, bisa dikatakan `kecolongan` karena yang diprediksi sumber gempa dari megatrans di bawah Siberut, tetapi malahan yang lepas di sumber tetangganya.

Pada kesempatan itu, Danny mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukannya, bahwa selain potensi gempa megatran yang aktif, juga ditemukan titik lain pada patahan Mentawai ditemukan ada yang aktif.

Potensi dipatahan Mentawai, juga berbahaya tetapi masih wacana karena butuh kajian komplit lagi, dan kekuatannya diharapkan tidak lebih besar, dalam sejarahnya belum ada yang sampai 7 SR.

Menurutnya, patahan Mentawai sudah lama, sudah banyak dilakukan penelitian tetapi dulu masih jadi perdebatan, tapi ternyata sekarang masih aktif.  (rusman/ant)

 

Arsip Berita