Sabtu, 26 Mei 2012
10 Kecamatan di Kendal Rawan Banjir
Rabu, 13 Oktober 2010 02:14
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 13/10 (SIGAP) - Sepuluh kecamatan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, berpotensi dilanda banjir skala tinggi pada musim hujan saat ini. Kepala Badan Kesbang Polinmas Kendal Sigit Priyono mengatakan, pihaknya memprediksi bencana banjir skala tinggi akan terjadi pada Desember.

Dirinya mengatakan sepuluh kecamatan itu adalah Brangsong, Cepiring, Gemuh, Kendal, Limbangan, Patean, Patebon, Pegandon, Rowosari, dan Weleri. Selain skala tinggi, katanya, beberapa kecamatan lain di Kabupaten Kendal akan diterjang banjir dengan skala menengah dan sedang mulai Oktober hingga November.

Ketua Tim SAR Kendal Abdone Johanes Dope mengatakan tiap tahun, kabupaten ini mengalami banjir sehingga perlu dilakukan tindakan antisipasi. "Selain bencana banjir, Kabupaten Kendal juga sering diterjang angin puting beliung dan tanah longsor," katanya.

Untuk menghadapi bencana tersebut, dia mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan peralatan untuk kegiatan penyelamatan. Dirinya mengakui banyak peralatan keselamatan dalam keadaan rusak parah, seperti perahu karet dan mesin perahu. "Dari empat perahu, hanya satu yang dapat berfungsi baik, sedangkan lainnya rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi," katanya.

Sementara mesin perahu, katanya, hanya dua yang dapat digunakan, sedangkan peralatan keselamatan kecil seperti pelampung, baju selam, dan sebagainya, masih dalam keadaan baik. Oleh karena itu, tambah dia, pihaknya tengah mengajukan permohonan pembelian perahu karet dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2011.

Akbar Zainuddin, warga Jawa Tengah, berharap agar Pemda Jawa Tengah, beserta jajaran aparatnya, siap siaga mengantisipasi banjir. “Antisipasi dini berikut simulasi penanggulangan banjir sangat diperlukan,”katanya kepada SIGAP, Selasa (12/10).

Lebih jauh penulis buku ‘Man Jadda Wajada’ ini mengingatkan agar menyadari tentang pengaruh global warming yang menyebabkan cuaca ekstrem. “Ke depan, masyarakat perlu mengubah pola hidup yang bertindak semena-mena bahkan mengeksploitasi alam,” katanya. Sebab, imbuhnya, kerusakan hutan, menjadi penyebab utama datangnya banjir.

Singkatnya, kata Akbar, memelihara dan menjaga keseimbangan alam, berarti mencegah sejak dini datangnya bencana alam. (sofyan badrie/ant)

 

Arsip Berita