Sabtu, 26 Mei 2012
Palembang: Air Sungai Palembang Di Luar Baku Mutu
Selasa, 12 Oktober 2010 04:29
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/10 (SIGAP) – Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang, Kemas Abubakar, di Palembang, Selasa (12/10) mengatakan, hasil penelitian terhadap 19 sistem di wilayah itu kondisi air sungai sangat parah, sehingga tidak ada lagi air yang bisa dikonsumsi. Pasalnya, Kondisi air pada 19 anak sungai di wilayah Kota Palembang tersebut dinilai di luar baku mutu, karena mengandung beragam zat berbahaya, seperti posfat dan sulfat.

Dirinya menjelaskan, kandungan zat berbahaya, seperti di Sungai Sekanak dan Bendung sangat beragam.

Terdeteksi sulfat, amoniak dan posfat serta limbah berbahaya lainnya mencemari 19 sungai di kota "pempek" tersebut, ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut diperparah dengan masih tingginya aktivitas warga membuang sampah, padahal dari air limbah rumah tangga saja pencemaran sudah parah.

Kemas mengatakan, realisasi sistem pengolahan limbah secara terpadu sangat membantu mengatasi masalah tersebut, karena itu pihaknya berharap program pengolahan limbah segerea dilaksanakan.

Sementara pantauan Antara, dari sembilan anak sungai tersebut, ternyata warga masih memanfaatkannya untuk keperluan mandi dan mencuci pakaian.

Kondisi tersebut, sangat berpotensi terhadap kesehatan warga, karena mereka belum menyadari akan bahaya memanfaatkan air sungai yang mengandung bahan berbahaya tersebut, kata Rustam, salah seorang warga tinggal di kawasan sekitar Sungai Kedukan, Kelurahan 3/4 Ulu Palembang itu.

Rustam menunjuk contoh, ketika air sungai tersebut naik, tampak di permukaan air semua kotoran hanyut termasuk kotoran manusia.

Suasana demikian kata Rustam, tampaknya tidak dihiraukan oleh warga, yang mayoritas belum mampu menikmati fasilitas layanan air bersih dari perusahaan daerah air minum setempat.

Berdasarkan catatan SIGAP, sungai Musi merupakan sumber bahan baku air minum untuk warga Sumsel, sehingga kelayakannya harus sesuai standar baku. Menurut budayawan Palembang, Djohan Hanafiah, di masa pemerintahan kolonial Belanda semasa 1930-an, jumlah anak Sungai Musi di Palembang mencapai 316 buah. Namun, kini jumlah tersebut menyusut tajam. Hanya tinggal puluhan anak sungai dengan kondisi yang memprihatinkan.

Tingkat pencemaran di Sungai Musi meningkat akibat aktivitas industri dan limbah rumah tangga. Unsur pencemar tertinggi, seperti fenol, besi, dan fosfat, sudah melebihi nilai ambang batas sehingga berpotensi mengancam organisme sungai. Sebagian besar limbah rumah tangga tersebut masuk Sungai Musi melalui aliran anak sungainya yang bermuara ke Sungai Musi.

Ada 22 unsur parameter bahan baku yang diteliti. Parameter itu di  antaranya seperti DO, pH, Cl2, Total Pospat, dan Fecal Coli. Parameter DO dan pH dapat dipengaruhi faktor alam, misalnya, penurunan debit air karena pengurangan kawasan hutan. Faktor pH dipengaruhi oleh lahan gambut, Cl2 dan Pospat dapat berasal dari perkebunan: penggunaan pupuk dan pestisida, penggunaan detergen dan serbuk pemutih. Adapun Fecal Coli/Coli Tinja, berasal dari kotoran hewan dan manusia. (rusman/ant)

 

Arsip Berita