Sabtu, 26 Mei 2012
NTB: Mahasiswa Dompu Galang Dana Untuk Korban Wasior
Senin, 11 Oktober 2010 07:01
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/10 (SIGAP) - Para mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Bersama Mahasiswa Dompu dan Ikatan Pemuda Baka Jaya menggalang dana untuk membantu korban banjir bandang di Wasior, Papua Barat. Lokasinya penggalangan dana tersebut dilakukan di perempatan Koramil, pasar bawah, cabang Cakre, dan cabang Karijawa.

Ketua Gerakan Bersama Mahasiswa Dompu (Gebmad) Efan Andi Ramadhan, Senin (11/10) mengatakan, ingin membantu meringankan beban warga yang sedang ditimpa musibah di Wasior, Teluk Wondoma, Papua Barat. “Hasil penggalangan dana ini akan dikirim ke rekening tim penanggulangan bencana di Papua Barat," katanya.

Efan mengatakan sasaran penggalangan dana ini adalah masyarakat Dompu. Mahasiswa sengaja memanfaatkan lokasi di perempatan yang ada lampu pengatur lalu lintas untuk mengumpulkan dana.

"Dalam waktu tidak lebih dari empat jam, mahasiswa mengumpulkan uang Rp3 juta," katanya.

Menurutnya, mahasiswa dan pemuda juga melakuan penggalangan dana di kampus-kampus di Kabupaten Dompu. "Kami manfaatkan anggota yang tersebar di kampus," katanya.

Selain melakukan penggalangan dana, ia juga meminta elemen masyarakat yang lain untuk ikut mengumpulkan dana yang akan disalurkan kepada korban banjir di Wasior.

Efan mengatakan, saat bencana melanda Dompu pada 2007, masyarakat yang berada di daerah lain juga turut serta meringankan beban warga di daerah ini.

Aksi serupa juga dilakukan saat terjadi bencana gunung meletus gunung di Sumatera Utara dan bencana angin puting beliung di Lombok Barat, NTB beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengatakan santunan Rp4 juta bagi ahli waris korban banjir bandang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat akan segera disalurkan.

"Santunan besarannya Rp4 juta per korban tewas, dan akan segera disalurkan," kata Salim Segaf Al Jufri di Jakarta, Senin (11/10).

Menteri Sosial menjelaskan, jika dalam satu keluarga ada dua korban tewas maka dua dikali Rp4 juta dan begitu juga seterusnya.

Dirinya juga menjelaskan, penyaluran tersebut bisa diserahkan langsung oleh Pemerintah Pusat maupun melalui pemerintah daerah.

Selain memberikan santunan bagi ahli waris, maka pemerintah juga akan menanggung semua biaya pengobatan bagi korban luka-luka.

"Biaya pengobatan bagi korban banjir Wasior yang luka-luka ditangguh pemerintah, sehingga pasien tidak perlu membayar biaya perawatan atau gratis," katanya.

Hingga saat ini pemerintah masih melakukan pendataan berapa banyak korban tewas yang akan diberikan santunan bagi ahli warisnya.

"Belum dapat dipastikan karena jumlah korban tewas terus bertambah," katanya.

Data terakhir yang dihimpun pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa korban tewas mencapai 145 orang dan luka 185 orang.

Sedangkan berdasarkan hasil kunjungan Menko Kesra dan Mensos pada Sabtu (9/10) diketahui bahwa kondisi Wasior pascabanjir sangat memprihatinkan dan dipenuhi bebatuan, kayu dan lumpur.

Menurutnya, Wasior pada saat ini sangat membutuhkan alat berat untuk menyingkirkan endapan lumpur dan mencari korban hilang. (rusman/ant) 

 

Arsip Berita